PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

1. Objek Gambar Telescopium
telescopium


2. Klasifikasi Telescopium
telescopium

Telescopium
telescopium
merupakan salah satu jenis Gastropoda yang banyak hidup di air payau atau hutan manggrove yang di dominasi oleh pohon bakau (Rhizopora sp) sehingga orang menyebutnya sebagai keong bakau dan di kepilauan seribu dikenal dengan nama “blencong”, sedangkan di sulawesi selatan dikenal dengan nama “burungan”.

Menurut (Linnaeus, 1758) klasifikasi Telescopium
telescopium
adalah sebagai berikut :

Kindom : Animalia

Phylum: Molusca

Class     : Gastropoda

Subcelass : Probobranchia

Ordo : Mesogastropoda

Superfamily: Cerithioidea

Famili : Potamididae

Genus : Telescopium

Spesies: Telescopium
telescopium

3. Ciri-ciri (Morfologi dan Anatomi) Telescopium
telescopium

Telescopium
telescopium
atau biasa disebut keong bakau memiliki cirri-ciri dengan panjang maksimum 13 cm dan panjang umum biasanya 11 cm.

3.1. Morfologi Telescopium
telescopium

Cangkang hewan ini berbentuk kerucut, panjang, ramping dan agak mendatar pada bagian dasarnya. Warna cangkang coklat keruh, coklat keunguan dan coklat kehitaman, lapisan luar cangkang dilengkapi dengan garis-garis spiral yang sangat rapat dan mempunyai jalur-jalur yang melengkung ke dalam(Bisa Dilihat pada Gambar 2). Panjang cangkang berkisar antara 7.5-11 cm(Barnes,1974;Dharma, 1988;Sreenivasan and Nataraja,1991). Soekendarsi dan palinggi (1995) mengatakan bahwa ukuran panjang cangkang yang ditemukan di daerah hutan manggrove mencapai 9,3 cm dan pada tambak ikan hanya berukuran 8,8 cm. Perbedaan ukuran yang di temukan pada tiap-tiap habitat di sebabkan karena ketersediaan pakan di daerah hutan manggrove lebih baik dari pada di tambak-tambak ikan, juga karena faktor lingkungan.

Gambar 2. Bentuk morfologi dari Telescopium
telescopium

3.2. Anatomi
Telescopium
telescopium

Anatomi sitem pencernaan hewan ini adalah berbentuk kantong yang bergulung-gulung. Oeseophagus berupa tabung yang berbanding tipis dan berbentuk garis panjang, perutnya berbentuk bulat per yang mengangkat caccum yang terikat pada kelenjar pencernaan setelah melewati perut, sistem pencernaan berputar kembali dan kemudian membentuk rektum dan anus yang berubah menjadi lubang belapis. Usus berbelit dan bentuk kantong bertambah besar dalam suatu jaringan konveksi yang bermassa (Alexander dan Rac, 1979).

4. Sistem Reproduksi dari Telescopium
telescopium

Menurut (Budiman, 1988; Sreenivasan dan Nataraja, 1991) bahwa Sistem reproduksi hewan ini bersifat dioecious (terpisan), fertilisasi terjadi di dalam tubuh. Aktivitas sexual dimulai ketika keong jantan dengan kakinya memegang cangkang keong betina lalu membalikkan sehingga posisi aperatur betina berhadapan aperatur jantan dan selanjutnya jantan memasukan kepala dan kakinya kedalam aperatur betina yang terbuka

5. Daur Hidup atau Siklus Hidup Dari
Telescopium
telescopium

Aspek-aspek utama dari siklus hidup gastropoda meliputi:

* Bertelur dan telur

* pengembangan embrio

* Stadion larva atau larva

 * Estivation dan hibernasi

* Pertumbuhan gastropoda untuk Kawin

* dari gastropoda dan perkawinan gastropoda: terjadi pembuahan internal atau eksternal sesuai dengan spesies. fertilisasi eksternal umum di gastropoda

6. Distribusi atau Penyebaran Telescopium
telescopium

Hewan ini hidup di daerah trumbu karang dan merupakan jenis hewan indopasifik yang mampu hidup diperairan bakau tropis. Umumnya jenis ini ditemukan sangat dekat dengan genangan air dan mampu bertahan pada rantang kadar garam air yang tinggi, yaitu pada garam 15 – 34 ppt dan bentuknya seperti kristal yang muncul di permukaan (Alexander, dan Rac, 1979). Hewan ini sering ditemukan jumlah berlimpah didaerah pertambakan yang berbatasan dengan hutan mangrofve, juga pada sungai yang dekat dengan daerah pertambakan. Meanurut soekendarsi, litaay dan matimmu (1996), hewan ini banyak ditemukan didaerah pertambakan yang dekat dengan mulut sungai dan dapat hidup pada kadar garam 1 – 2 ppt, juga hewan ini lebih bahyak membenamkan diri dalam lupur yang kaya bahan organik dari pada diatas subrat lumpur.

Menurut Robert, Soemiharjo dan Kastoro (1982), T. telescopium mendiami tanah berluympur deket daerah pasang surut, mampu hidup beberapa lama diluar air, hidup berkelompok serta termasuk habifora (pemakan tumbu –tumbuhan) dan detritus feder (pemakan detritus) . Carino, Casway dan Rifero (1993) menyatakan bahwa hewan ini mempunyai habitat didaerah mangrove dan kebanyakan bersifat pemakan detritus. Pada umumnya, makan biota dari family potamidae ini terdiri atas : bahan organik halus, partikulat ditritus dan diatom yang menyedap dsi dasar perairan secara berbagai jenis alga (Sreenivasan dan Natarajan, 1991).

Berdasarkan hasil penelitian Wells et al. (2003), Telescopium telescopium mempunyai tingkah laku lebih aktif pada saat spring tide (pasang tinggi dan surut rendah) dari pada neap tide (pasang rendah dan surut tinggi). Hal tersebut dikarenakan pada saat neap tide, gastropoda tersebut cenderung untuk berlindung dari kekeringan dan bersembunyi di dalam lumpur atau di bawah perakaran mangrove. Tingkah laku tersebut merupakan salah satu pola adaptasi gastropoda terhadap adanya perubahan suhu (suhu tinggi) dan kondisi kering (Bay et al., 1986 in Wells et al., 2003).

Daftar Pustaka

http://en.wikipedia.org/wiki/Telescopium_telescopium

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5063/2000ham.pdf?sequence=4

http://korn-n-el.blogspot.com/2010_11_01_archive.html