PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

1. Gambar Kepiting Kenari (Birgus latro )


2. Klasifikasi Kepiting Kenari (Birgus latro )

Menurut (Linnaeus, 1767) klasifikasi Kepiting Kenari (Birgus latro )
adalah sebagai berikut :

Kingdom :Animalia

Phylum :Arthropoda

Subphylum :Crustacea

Classis :Malacostraca

Superordo  :Eucarida

Ordo :Decapoda

Subordo  :Pleocyemata

Superfamilia :Paguroidea

Familia :Coenobitidae

Genus  :Birgus

Species : Birgus latro

3. Ciri-ciri (Morfologi dan Anatomi) Kepiting Kenari (Birgus latro )

3.1. Morfologi Kepiting Kenari (Birgus latro )

Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (“phyllobranchiate”), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda.

Kepiting atau ketam jantan dan betina mudah dibedakan dengan melihat ekornya, yang terlipat di bawah (atau di ‘depan’) tubuhnya dan nampak seperti segitiga bersegmen-segmen. Yang jantan cenderung sempit, dan yang betina melebar, kadang-kadang berisi ribuan telur hingga nampak menganga.

Kepiting dan rajungan adalah jenis hewan yang sangat mirip. Perbedaannya hanya terletak pada kaki yang paling belakang; pada rajungan kaki yang terakhir itu merupakan sejenis anggota tubuh yang pipih tetapi lonjong (tidak runcing seperti kaki lainnya) yang umumnya digunakan untuk berenang. Rajungan juga lebih umum ditemukan di laut.

3.2. Anatomi Kepiting Kenari (Birgus latro )

Anatomi Sistem Pernafasan

Kecuali sebagai larva, kepiting kenari (Birgus latro ) tidak berenang bahkan spesimen kecil akan tenggelam dalam air. Mereka menggunakan organ khusus yang disebut paru-paru branchiostegal untuk bernafas. Organ ini dapat ditafsirkan sebagai tingkat perkembangan antara insang dan paru-paru, dan merupakan salah satu adaptasi paling signifikan dari kepiting kenari (Birgus latro ) terhadap habitatnya. Ruangan dari organ pernafasan ini terletak bagian belakang sefalotoraks. Di organ ini terdapat jaringan yang sama seperti pada insang, namun cocok untuk penyerapan oksigen dari udara, bukannya di air. Mereka memakai kaki terakhir yang paling kecil untuk membersihkan organ nafas ini, dan untuk membasahinya dengan air laut. Organ itu memerlukan air agar berfungsi, dan kepiting kenari (Birgus latro ) ini memenuhi hal ini dengan menekan kaki yang dibasahi pada jaringan spons didekatnya. kepiting kenari (Birgus latro ) juga bisa meminum air laut, menggunakan cara yang sama untuk mengambil air ke mulutnya.

Selain organ pernafasan ini, kepiting kenari (Birgus latro ) mempunyai kumpulan insang rudimenter tambahan. Namun sewaktu insang ini kemungkinan digunakan untuk bernafas dalam air pada sejarah evolusi jenis ini, mereka tidak lagi menyediakan cukup oksigen, dan kepiting kenari (Birgus latro ) yang terbenam di air akan tenggelam dalam waktu beberapa menit (laporan beragam, mungkin tergantung tingkat stres dan latihan serta konsumsi oksigen yang dihasilkan).

Anatomi Sistem Penciuman

Organ berbeda lain dari kepiting kenari (Birgus latro ) adalah “hidung”nya. Proses penciuman bekerja sangat berbeda tergantung apakah molekul yang dibaui adalah molekul hidrofil di air atau hidrofob di udara. Seperti kebanyakan kepiting yang hidup di air, mereka mempunyai organ terspesialisasi yang disebut estetask pada antena mereka untuk menentukan baik konsentrasi maupun arah dari suatu bau. Namun, karena kepiting kenari (Birgus latro )hidup di darat, estetask pada antena mereka sangat berbeda dengan estetask kepiting lain dan lebih terlihat seperti organ penciuman serangga, disebut sensilia. Sementara serangga dan kepiting kenari (Birgus latro )berasal dari jalur evolusi yang berbeda, kebutuhan yang sama untuk untuk mendeteksi bau di udara membawa pada perkembangan organ yang sangat mirip, menjadikannya sebagai contoh dari evolusi konvergen. kepiting kenari (Birgus latro ) juga menjentikkan antena mereka untuk memperkuat indera mereka. Mereka mempunyai indera penciuman yang bagus dan dapat mendeteksi bau yang menarik dari jarak yang jauh. Bau terutama dari daging busuk, pisang dan kelapa, sumber makanan potensial, menarik perhatian mereka.

4. Reproduksi Kepiting Kenari (Birgus latro
)

Kepiting Kenari (Birgus latro
)
kawin secara berulangkali dan cepat di daratan kering pada periode dari Mei sampai September, khususnya Juli dan Agustus. Kepiting Kenari (Birgus latro
)
jantan dan betina berkelahi satu sama lain, lalu yang jantan berbalik ke punggung betina untuk kawin. Seluruh proses perkawinan berlangsung sekitar 15 menit. Tidak lama kemudian, betina bertelur dan melekatkannya dibawah perutnya, membawa telur-telur yang telah dibuahi itu selama beberapa bulan. Bila tiba waktu telur-telur itu menetas, biasanya bulan Oktober atau November, Kepiting Kenari (Birgus latro
)
betina melepaskan telur-telur tersebut ke lautan pada saat pasang naik.

5. Daur Hidup atau Siklus Hidup Dari Kepiting Kenari (Birgus latro
)


Gambar : Daur Hidup Kepiting Kenari (Birgus latro
)

Seperti pada krustasea dekapoda lain, larvanya bertipe zoea. Dilaporkan bahwa semua ketam kenari melakukan hal ini pada malam yang sama dan berada di pantai pada saat yang sama.

Larva-larva itu mengapung di lautan selama 28 hari, selama itu banyak dari mereka dimakan pemangsa. Setelah itu, mereka hidup di dasar laut dan di pantai sebagai umang-umang, menggunakan cangkang siput yang kosong untuk berlindung selama 28 hari berikutnya. Pada saat ini, mereka kadang-kadang pergi ke daratan kering. Seperti umang-umang -yang lain, ia mengganti cangkang siput itu, dengan bertambah besarnya ukuran mereka. Setelah 28 hari ini, mereka meninggalkan lautan secara permanen dan kehilangan kemampuan bernapas di air. Kepiting Kenari (Birgus latro ) muda yang tidak dapat menemukan cangkang keong yang beukuran tepat juga sering memakai potongan kelapa retak. Saat mereka tumbuh bahkan melebihi tempurung kelapa, mereka mengembangkan perut yang mengeras. Kira-kira 4 sampai 8 tahun setelah menetas, ketam kenari dewasa dan dapat berkembang biak. Masa perkembangan yang panjang itu tidak biasa ditemukan pada crustacea.

6. Distribusi atau Penyebaran Kepiting Kenari (Birgus latro )

Kepiting kenari hidup sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan, tergantung daerah setempat. Mereka menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah gembur. Di siang hari, Kepiting kenari bersembunyi, untuk berlindung dan mengurangi hilangnya air karena panas. Di tempat persembunyiannya terdapat serat sabut kelapa yang kuat nan halus, yang dipakainya sebagai alas; sabut kelapa ini dikumpulkan oleh warga lokal untuk dibuat kerajinan. Saat beristirahat di liangnya, ketam kenari menutup jalan masuk dengan salah satu capitnya untuk menjaga kelembaban yang penting untuk pernapasannya. Di area dengan banyak Kepiting kenari, beberapa kepiting juga keluar waktu siang hari, mungkin untuk mendapat keuntungan dalam mencari makan. kepiting kenari juga kadang-kadang keluar waktu siang jika keadaan lembab atau hujan, karena keadaan ini memudahkan mereka untuk bernapas. Mereka hanya ditemukan di darat, dan beberapa dapat ditemui sejauh 6 km dari lautan.

Kepiting kenari hidup di areal dari samudera Hindia hingga samudera Pasifik tengah. Pulau Christmas di samudera Hindia mempunyai populasi ketam kenari terbesar dan paling lestari di dunia. Populasi samudera Hindia lain ada di Seychelles, terutama Aldabra, kepulauan Glorioso, pulau Astove, pulau Assumption dan Cosmeldo, namun pada pulau-pulau ditengah kepiting kenari punah. Mereka juga ada di beberapa pulau di kepulauan Andaman dan Nicobar di teluk Benggala. Dalam jumlah besar, mereka juga ada di kepulauan Chagos milik Inggris, yang juga dikenal sebagai Teritori Samudera Hindia Inggris. Mereka dilindungi di pulau-pulau ini dari perburuan dan dimakan, dengan denda hingga 1500 poundsterling tiap ketam yang dikonsumsi. Di Mauritius dan Rodrigues mereka punah.

Di samudera Pasifik, rentang habitatnya hanya diketahui sekedarnya. Charles Darwin masih percaya bahwa ia hanya ditemukan di “pulau karang di utara kepulauan Society. Namun kepiting kenari sebenarnya lebih tersebar luas, seskipun tidak berjumlah besar di tiap pulau-pulau di Pasifik tempatnya berada. Populasi besar ada di kepulauan Cook, terutama pulau Pukapuka, Suwarrow, Mangala, Takutea, Mauke, Atiu, dan Palmerston. Hal ini dekat dengan rentangnya yang paling timur, seperti kepulauan Line di Kiribati, dimana ketam kenari mereka banyak di Teraina (pulau Washington) yang banyak terdapat hutan pohon kelapa. dan di pulau Caroline.

Karena mereka tidak berenang saat dewasa, kepiting kenari tiap waktu harus mengkoloni pulau-pulau sebagai larva, yang bisa berenang. Akan tetapi, karena jarak yang jauh antar pulau, beberapa peneliti[
percaya stadium larva selama 28 hari tidak cukup untuk melalui jarak tersebut dan mereka menganggap ketam kenari muda mencapai pulau lain melalui kayu terapung atau benda lain.

Penyebarannya terpisah-pisah, contohnya disekitar pulau Kalimantan, Indonesia atau Irian. Pulau-pulau ini mudah dicapai oleh ketam kenari, dan merupakan habitat yang sesuai, tetapi tidak ada populasi ketam kenari. Hal ini karena ketam kenari dikonsumsi manusia hingga punah. Namun ketam kenari juga diketahui hidup di Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi, juga di Maluku, Indonesia.

Daftar Pustaka

http://zonaikan.wordpress.com/2010/02/10/ketam-kenari/

http://id.wikipedia.org/wiki/Ketam_kenari

http://richocean.wordpress.com/fauna-lain/kepiting/