RAHMAN PELU (EL NINO HITU)



FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

A. PENDAHULUAN

A1. Sejarah Tambak

Usaha pengembangan budidaya tidak terlepas dari ketersediaan tempat atau wadah yang dapat mengolah perkolaman yang luas sehingga dibutuhkan suplay air dalam jumlah yang banyak dan diusahakan berlokasi sedekat mungkin dengan sumber air tersebut yakni dekat pantai dan muara sungai.

Pada tahun 2004 DKP propinsi Halmahera Barat Kecamatan Jailolo menyediakan lokasi bagi para petambak tepatnya didesa Gamlamo, petak tambak mulai dibangun seluas 3 hektar dan dipetak dengan ukuran 25 x 25 cm dalam 2 petak, organisme yang dibudidayakan adalah udang windu. Pada tahun 2005 ditambah lagi 6 petak untuk udang windu, dalam 1 petak hasilnya 100 kg.

Pada tahun 2006 – 2008 sudah dibudidayakan ikan bandeng tapi bibitnya yang masih terlalu kurang, maka ditambah lagi 2 petak tambak membudidayakan udang vaname pada saat panen udang vaname tidak seragam karena tinggkat perlakuan pada saat penebaran dan penyuburan yang masih minim, Saat ditebar udang vaname sebanyak 2500 per ekor dalam 1 petak jadi dalam 10 petak berkisar anatara 60 – 10 %.

Pengelolaan tambak masih semi intensive:

  • Menggunakan bibit unggul (Hacery)
  • Mempertahankan kedalaman air dengan menggunakan alkon
  • Pakan yang digunakan pakan pellet
  • Sistem pengawasan (monitoring) setiap saat
  • Secara visual belum ada penyakit yang didapat

A2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini adalah:

  1. Untuk mengetahui sistem pengelolaan tambak meliputi pemilihan lokasi, spesis yang dibudidayakan, pakan dan pemberian pakan, penyakit dan kualitas air.
  2. Untuk mengetahui nilai parameter pH, suhu maupun salinitas pada tambak ikan maupun udang yang terdapat di Kabupaten Halmahera Barat, Kecamatan Jailolo Desa Gamlamo

Manfaat dari praktikum ini adalah Sebagai bahan informasi sistem pengelolaan tambak dan dasar acuan dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan tambak guna meningkatkan produktifitas tambak khususnya untuk pengembangan budidaya udang.

B. PEMBAHASAN

B1. Dasar Pemilihan Lokasi

  1. Lokasi yang digunakan untuk budidaya udang mudah dijangkau
  2. Lahan yang digunakan bukan lahan konflik
  3. Lingkungan harus layak secara tekhnik maupun non tekhnik
  4. Pasokan air yang masuk dan air yang keluar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan
  5. Air yang tersedia harus benar-benar bersih dan tidak tercemar oleh limbah.

B2. Tahapan Pembuatan atau Konstruksi Kolam Tambak

Luas tambak yang ada dilokasi kecamatan jailolo desa Gamlamo seluas 3 Hektar dengan 10 petakan dengan masing-masing ukuran setiap petaknya 25 x 25 cm, dengan kedalaman tambak 1 meter, lebar pematang 2 meter, panjang pintu air masuk 3 meter, lebar tandon 4,40 meter dan alat yang digunakan dalam pembuatan tambak menggunakan saplak dan kadok toplok (alat pengangkut lumpur), waktu yang di butuhkan saat pembuatan tambak sekitar 2 minggu dan untuk 2 petakan 10 orang pekerja.

B3. Manajemen Pengadaan Benih

Benih yang diambil dari balai karantina (Unjung Pandang) pengujian bibit unggul (hacerry), benih awal masih post larva rata-rata yang digunakan PL-8 dan PL-30.

B4. Manajemen Kualitas Air

  • Oksigen Terlarut (DO)

Kelarutan kandungan oksigen yang terukur berkisar antara 3,55 – 5,4 ppm. Kelarutan oksigen ini menunjukan kondisi yang optimal selama kegiatan ujicoba pada budidaya udang , sementara untuk kebutuhan minimal pada air media pemeliharaan udang adalah > 3 ppm (Anonim, 2007). Sedagkan hasil yang didapatkan saat pengukuran dilokasi tambak dikecamatan Jailolo adalah oksigen terlarut (DO) 3,84 ppm, maka kandungan kelarutan oksigen terlarut yang optimal.

  • Suhu

Berdasarkan  hasil  penelitian  para ahli, terbukti bahwa pada suhu rendah metabolisme udang menjadi rendah dan secara nyata berpengaruh terhadap nafsu makan udang (Byod, 1989).  Hasil pengamatan dari kedua petak ujicoba terukur suhu air media berkisar antara 26,7 – 29,8oC, dari data kisaran suhu ini menunjukan cukup optimal untuk proses metobolisme udang yang dipelihara. Sedangkan nilai suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan udang vaname berkisar antara 28,0 – 31,5 0C (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991). Sedangkan pengamatan dilokasi tambak saat pengukuran dikecamatan Jailolo adalah suhu 33,6 oC, maka pertumbuhan masih optimal.

  • pH Air

Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air (ikan dan udang) memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6.8 – 8.5 (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1991).  Pada pH  dibawah 4,5  atau diatas 9,0 ikan atau udang akan mudah sakit dan lemah, dan nafsu makan menurun bahkan udang cenderung keropos dan berlumut. Apabila nila pH yang lebih besar dari 10 akan bersifat lethal bagi ikan maupun udang. Nilai pH dari kedua petak kegiatan ini relatif dalam kondisi yang optimal dan fluktuasi harian termasuk kedalam batas yang masih aman. Dalam pengukuran dilokasi tambak kecamatan Jailolo adalah 7-8, maka organisme tersebut dapat tumbuh dengan baik.

  • Salinitas

Udang vaname dapat tumbuh dan berkembangan pada kisaran salinatas 5 – 30 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991), bahkan jenis udang vaname mempunyai toleransi cukup luas yaitu antara 0 – 50 ppt. Namun apabila salinitas di bawah 5 ppt dan di atas 30 ppt biasanya pertumbuhan udang vaname relatif lambat, hal ini terkait dengan proses osmoregulasi dimana akan mengalami gangguan  terutama pada saat udang sedang ganti kulit dan proses metabolisme. Sedangkan hasil yang didapatkan di lokasi jailolo adalah 1,43 ppt maka pertumbuhan dan perkembangan masih relatif lambat.

  • Kecerahan

Kecerahan dilokasi tambak Kecamatan Jailolo Desa Gamlamo adalah 30 cm dengan kedalaman tambak 1 meter.

Volume air masuk dan volume air keluar, masih mengandalkan pasang surut, saat pengolahan air dikeluarkan 1/3 dari air dan pada saat pemasukan 1/3 lagi maka dalam 1 bulan 6 kali pergantian air. Pada pintu air menggunakan filter agar dapat menyaring mikroorganisme yang patogen bagi organisme yang dibudidayakan ditambak, dan tandon digunakan untuk penampungan air agar dapat mengedap sehingga air yang terdapat ditandon benar-benar air yang bersih.

B5. Manajemen Pakan

Pemupukan dasar tambak untuk menumbuhkan pakan alami dengan menggunakan pupuk urea dan TSP, saat pH tanah turun digunakan kapur Dolomid. Pada saat penebaran pakan setelah udang berumur 1 minggu diberi pupuk urea 5 kg dan TSP 3 kg untuk 1 petak, setelah 2 minggu penebaran pakan diberi pupuk urea 2,5 kg dan TSP 1kg untuk menumbuhkan pakan alami, setelah 1 bulan barulah diberi pakan buatan berupa pellet. Jenis pakan yang digunakan adalah pakan pellet dengan merek pakanya Bintang, Irawan, dan Tata.

Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

a. Umur 1-10 hari pakan 01

b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02

c. Umur 16-30 hari pakan 02

d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03

e. Umur 36-50 hari pakan 03

f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).

g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian. Dari hasil pengamatan sistem pemberian pakan buatan tidak menggunakan takaran, tetapi hanya menggunakan sistem perkiraan saja dan waktu pemberian 2 kali dalam sehari yaitu waktu pagi dan sore,

B6. Manajemen Pasca Panen

Saat pasca panen dilakukan dengan 2 cara pemanenan yaitu:

  1. Panen selektif

Panen selektif dilakukan pada saat udang yang sudah dewasa dan siap untuk diproduksi ke pasaran, sedangkan

  1. Panen total

Panen total adalah panen secara merata sampai pada saat pengeringan tambak, panen total juga dilakukan akibat terserang penyakit.

Sistem produksinya dalam 1 petak hasilnya sebanyak 100 kg, dan pemasaran yang dilakukan di 2 tempat yaitu Jailolo dan Ternate.

C. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Tambak yang dikelola petani tambak kecamatan Jailolo didesa Gamlamo masih menggunakan sistem semi intensive.
  2. Lokasi yang dipilih untuk pembuatan tambak adalah zona hijau lokasi tumbuhnya hutan mangrove.
  3. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan bentuk pellet dan penumbuhan pakan alami dalam tambak dengan menggunakan pupuk.

D. DAFTAR PUSTAKA

Amri. K, 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka Tangerang.

Halima. R. W. dan Adijaya, 2005. Budidaya Udang Vanamei. Swadaya Jakarta.

Murtidjo. B. A. 2003. Benih udang Skala Kecil. Kanisius.Yogyakarta.

Sumeru. S.U. dan Anna. S. 1992. Pakan Udang Windu (Penaeus monodon).

Sahwan. M. F. 2003. Pakan Ikan Dan Udang. Penebar Swadaya Jakarta.

Soetomo . M. 1990. Teknik Budidaya Udang Windu. Penerbit Sinar Baru. Bandung.