PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)

 


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

  1. Gurita (octopus)

Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: κτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan    :Animalia

Filum        :Moluska

Kelas        :Cephalopoda

Upakelas        :Coleoidea

Superordo    :Octopodiformes

Ordo        :Octopoda ,Leach, 1818

KELAS CEPHALOPODA

Subkelas Nautiloidea: nautilus

Subkelas Coleoidea

Superordo Decapodiformes: squid, cuttlefish

Superordo Octopodiformes

Ordo Vampyromorphida: Vampire Squid

Ordo Octopoda

Subordo Cirrata: finned deep-sea octopus

Familia Opisthoteuthidae: umbrella octopus

Familia Cirroteuthidae

Familia Stauroteuthidae

Subordo Incirrata

Familia Amphitretidae: telescope octopus

Familia Bolitaenidae: gelatinous octopus

Familia Octopodidae: benthic octopus

Familia Vitreledonellidae: Glass Octopus

Superfamilia Argonautoida

Familia Alloposidae: Seven-arm Octopus

Familia Argonautidae: argonauts

Familia Ocythoidae: Tuberculate Pelagic Octopus

Familia Tremoctopodidae: blanket octopus

CIRI-CIRI (Anatomi)

Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray.

Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang. Gurita mempunyai masa hidup yang relatif singkat dan beberapa spesies hanya hidup selama 6 bulan. Spesies yang lebih besar seperti Gurita raksasa Pasifik Utara yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram bisa hidup sampai 5 tahun di bawah kondisi lingkungan yang sesuai. Reproduksi merupakan salah satu sebab kematian, gurita jantan hanya bisa hidup beberapa bulan setelah kawin dan gurita betina mati mati tidak lama setelah bertelur. Kematian disebabkan kelalaian gurita untuk makan selama sekitar satu bulan sewaktu menjaga telur-telur yang belum menetas. Selubung bagian perut tubuh gurita disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung.

Gurita memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah gurita mengandung protein Hemosianin yang kaya dengan tembaga untuk mengangkut oksigen. Dibandingkan dengan Hemoglobin yang kaya dengan zat besi, Hemosianin kurang efisien dalam mengangkut oksigen. Hemosianin larut dalam plasma dan tidak diikat oleh sel darah merah sehingga darah gurita berwarna biru pucat. Gurita bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon. Gurita memiliki insang dengan pembagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.

Siklus hidup dan Reproduksi

Gurita jantan bereproduksi dengan meletakkan kantong spermatofora ke dalam rongga mantel gurita betina menggunakan lengan istimewa yang disebut hectocotylus. Lengan kanan ketiga biasanya menjadi hectocotylus. Pada beberapa spesies, gurita betina bisa menjaga sperma agar tetap hidup sampai telur menjadi matang. Setelah dibuahi, gurita betina bisa bertelur hingga sekitar 200.000 butir. Jumlah telur gurita bisa berbeda-beda bergantung pada masing-masing individu, familia, genus atau spesies. Gurita betina menggantung kumpulan telur berbentuk kapsul yang membentuk untaian di langit-langit sarang. Setelah telur menetas, larva gurita untuk sementara waktu melayang bersama kawanan plankton sambil memangsa pakan berupa copepod, larva kepiting dan larva bintang laut sampai cukup besar dan berat untuk berada di dasar laut. Beberapa spesies gurita dengan habitat di laut dalam tidak perlu melewati siklus melayang bersama kawanan plankton. Periode sebagai larva merupakan saat penuh bahaya karena larva gurita mudah dimangsa pemakan plankton sewaktu menjadi bagian dari kawanan plankton.

Distribusi (penyebarannya)

 Meskipun bertubuh lunak, gurita memiliki mata dan rahang yang tumbuh dengan baik. Menurut Asikin (1981) dan Suwignyo (1989), mulutnya berbentuk paruh yang kuat untuk mengoyak dan menggigit mangsanya. Kulit tubuhnya banyak mengandung kromatofora yang berisi pigmen hitam, merah dan kuning yang dikendalikan oleh sistem syaraf. Warna tubuhnya dapat berganti-ganti sesuai dengan keadaan lingkungannya.

Gurita tergolong hewan karnivora. Makanannya terdiri atas siput, kepiting, udang dan ikan. Aktivitas makannya berlangsung pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah batu. Gurita selalu dihindari oleh predator, karena dapat membius indera chemoreceptor (Asikin, 1981 dan Suwignyo, 1989)

Gurita lebih suka merayap untuk mencari lubang atau celah karang atau cangkang moluska kosong untuk digunakan sebagai tempat persembunyiannya. Jika tidak menemukan tempat yang cocok, maka gurita akan membangun sarang dari batu-batuan dengan menggunakan ke-8 tangannya. Menurut Grzimek (1976), gurita akan bergerak mundur dengan cepat ketika berhadapan dengan predator atau menemui gangguan.

Penyebaran gurita sangat  luas dan terdapat hampir di seluruh perairan, mulai dari perairan dingin hingga panas. Dari perairan pantai hingga perairan dengan kedalaman lebih dari 1.000 m (Asikin, 1981). Roper et al (1984) menyebutkan bahwa gurita yang hidup di daerah karang sampai batas paparan benua pada kedalaman 200 m diantaranya adalah O. cyaneus, O. selena, O. mambranaceus, O. brianeus, O. vulgaris, dan O. joubini. Jenis gurita yang hidup di padang lamun adalah O. vulgaris dan O. maya

  1. Kima raksasa

Kima (Tridacna) adalah genus kerang-kerangan berukuran besar penghuni perairan laut hangat. Kima termasuk dalam famili Tridacnidae.


Gambar Kima (Tridacna)

Klasifikasi

Kerajaan: Animalia


Filum : Mollusca


Kelas : Bivalvia


Ordo : Veneroida


Famili : Tridacnidae


Genus : Tridacna

Morfologi Kima

Kima termasuk dalam kelas Bivalvia, suatu kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup. Bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran yang berlapis-lapis. Alat gerak berupa kaki perut yang termodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis, melekatkan diri pada substrat berbatu dengan semacam rambut atau organ yang disebut byssus.

Cangkang kima terbagi menjadi beberapa lekukan atau lipatan (folds). Punggung  lipatan di permukaan cangkang biasanya berbentuk seperti tulang rusuk sehingga sering disebut rib. Pada kima sisik, kima lubang dan kima Mauritius, tiap punggung lipatan memuat sebaris lempeng-lempeng berbentuk setengah mangkok yang disebut sisik (scutes). Sisik ini dulunya adalah bagian tepi dari mulut atau bibir cangkang (upper margin) yang kemudian tertinggal saat cangkang tubuh membesar



(Gambar 3).

Pada kima, kedua bilah cangkang disatukan oleh ligamen/semacam jaringan otot fleksibel yang disebut hinge. Di samping ligamen ini terdapat semacam pusat atau titik awal pertumbuhan cangkang yang disebut umbo. Disamping umbo terdapat semacam lubang tempat keluarnya organ pelekat (byssus) yang disebut bukaan byssus (byssal opening). Untuk lebih jelasnya, bagian-bagian cangkang kima dapat dilihat pada Gambar 3 di atas.

Di antara semua jenis kerang, kima adalah salah satu kerang dengan bentuk dan ciri yang paling unik. Ukuran cangkangnya sangat besar dan berat, sehingga disebut kerang raksasa (giant clam). Mantelnya yang memiliki sistem sirkulasi khusus, menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae,  makhluk aneh separuh hewan dan separuh tumbuhan yang berbulu cambuk dari marga Symbidinium. Makhluk bersel tunggal ini, mampu menghasilkan makanannya sendiri, melalui proses fotosintesis dengan memanfaatkan karbondioksida, fosfat dan nitrat yang berasal dari sisa metabolisme kima.

Reproduksi Kima

Kima termasuk jenis kerang yang bersifat hermafrodit sehingga satu individu dapat menghasilkan sperma dan sel telur. Akan tetapi, proses pematangan keduanya tidak terjadi secara bersamaan, sehingga perkawinan antara sperma dan telur dari satu individu tidak akan terjadi. Sperma dari satu individu akan membuahi sel telur yang dihasilkan oleh kima lain.

Cangkang yang besar dan berat tidak memungkinkan bagi kima untuk berpindah tempat, sehingga kima memiliki mekanisme yang unik untuk bereproduksi. Kima melakukan pembuahan secara eksternal dengan melepaskan sperma dan sel telur ke perairan di sekitarnya. Agar waktu pelepasan sperma dan sel telur ini terjadi secara bersamaan, maka kima yang satu akan mengirimkan pesan secara kimiawi kepada kima lainnya dengan melepaskan semacam zat kimia yang bersifat merangsang pemijahan. Zat kimia ini disebut SIS (Spawning Induced Substance).

SIS dilepaskan melalui siphon excurrent. Zat kimia ini akan mengalir mengikuti arus dan dapat “dibaca” oleh kima lainnya melalui suatu chemoreseptor yang terdapat di siphon incurrent. Pesan kemudian diteruskan ke ganglia cerebral yang berfungsi sebagai otak sederhana pada kima. Setelah pesan kimia ini sampai pada kima-kima lainnya, terjadilah pelepasan sperma dan sel telur secara bersamaan. Jadi, dalam hal ini, kima melakukan kawin massal.

Tingkat keberhasilan pembuahan secara eksternal lebih kecil dibandingkan pembuahan internal. Faktor lingkungan seperti kuat arus sangat berpengaruh terhadap distribusi sperma dan sel telur. Demikian pula dengan keberadaan pemangsa. Banyak jenis ikan dan biota laut lainnya yang gemar memakan telur-telur kima, karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

Untuk memperbesar tingkat keberhasilan, kima akan melepaskan sel telur sebanyak-banyaknya ke perairan sekitarnya. Tridacna gigas misalnya dapat melepaskan telur hingga lebih dari 500 juta butir dalam satu kali musim memijah. Telur ini berdiameter sekitar 100 mikron. Umumnya, proses pemijahan berlangsung selama pasang tinggi saat bulan purnama atau bulan baru. Telur dan sperma akan dilepaskan sedikit demi sedikit dengan interval 2-3 menit selama  30 menit hingga dua setengah jam.

Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi larva (trocophore)  setelah 12 jam. Larva ini akan membentuk cangkang kapur. Saat berumur 2 hari, larva akan membentuk kaki yang digunakan untuk bergerak ke dasar perairan dan berenang mencari lokasi yang cocok. Selama beberapa pekan pertama, larva akan bergerak untuk mencari tempat yang sesuai. Jika mendapatkan tempat yang dirasa cocok, larva akan menempel di lokasi tersebut untuk seumur hidupnya.

Larva kima belum memiliki zooxanthella dalam tubuhnya sehingga masih mengandalkan plankton sebagai sumber makanan. Zooxanthella yang terbawa arus dan masuk kedalam sifon kima akan dikumpulkan dan disimpan di dalam jaringan mantel sedikit demi sedikit. Dari jutaan larva yang hidup, hanya sebagian kecil yang dapat tumbuh hingga fase juvenil. Kima akan menjadi juvenil saat ukurannya mencapai 20 cm. Kima raksasa akan terus membesar dengan laju pertumbuhan 12 cm per tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun.

Sebaran

Populasi Kima sangat melimpah di habitatnya. Di Great barrier reef Australia, daerah karang otak seluas 1 m persegi dapat memuat antara 100 hingga 200 kima lubang dengan berbagai ukuran (Hamner 1978, Hamner & Jones 1976). Kima lubang menempati habitat perairan yang paling dangkal dari 0 hingga 8 m di bawah permukaan laut. Kima ini juga tahan saat berada dalam kondisi surut terendah. Cangkangnya dapat menutup dengan rapat dan sempurna sehingga dapat mempertahankan kandungan air di dalam cangkang, saat terpapar matahari dan atau terekspose udara terbuka.


  1. Kerang Bulu (Anadara Maculosa)
  2. Gambar.
  1. Klasifikasi

    Kingdom     :     Animalia

    Pylum    :    Mollusca

    Kelas    :    Pelecypoda (Bilvalvia)

    Ordo    :    Taksondata

    Famili    :    Arcidae

    Genus    :    Anadara

    Spesies    :    Anadara Maculosa

  1. Siklus Hidup dari Telur hingga Dewasa

    Dalam Pelecypoda, sel telur yang telah matang akan dikeluarkan dari ovarium. Kemudian masuk ke dalam ruangan suprabranchial. Di sini terjadi pembuahan oleh sperma yang dilepaskan oleh hewan jantan. Telur yang telah dibuahi berkembang menjadi larva glochidium. Larva ini pada beberapa jenis ada yang memiliki alat kait dan ada pula yang tidak. Selanjutnya larva akan keluar dari induknya dan menempel pada dinding Kerang sebagai parasit, lalu menjadi kista. Setelah beberapa hari kista tadi akan membuka dan keluarlah pelecypoda muda.

  1. Ciri- Ciri Morfologi dan Anatomi

    Cangkang memiliki belahan yang sama melekat satu samam lain pada batas cangkang. Cangkang kerang ini di tutupi oleh rambut-rambut serta cangkang tersebut lebih tiis daripada kerang darah (Anadara Granosa),

  1. Habitat

    pada umumnya Kerang bulu hidup di prairan berlumpur dengan tingkat kekeruhan tinggi.

  1. Bintang lautA. klasifikasi
    Klasifikasi bintang laut :
    Kingdom : Animalia
    Phylum : Echinodermata
    Class : Asteroidea
    Genus : Asteroidea
    Spesies : Asteroidea sp

PENGATAR.
Sistem ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa. Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke saluran lateral. Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula.Dari saluran lateral, air masuk ke ampula.

             Saluran ini berkahir di ampula Jika ampula berkontraksi, maka air tertekan dan masuk ke dalam kaki tabung. Akibatnya kaki tabung berubah menjulur panjang. Apabila hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas. Selanjutnya ampula mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk. Kaki tabung sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya. Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya.
Stomach : sebagai alat pencernaan.
Mulut : tempat menyerap makanan
Anus : mengeluarkan sisa metabolisme .
Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin.
C. peranan bintang laut bagi kehidupan
Sebagai detrivor yaitu pemakan materi organik ,herbivora, karnivora, kotoran dan bangkai laut. Sehingga laut menjadi bersih dan keseimbangan ekosistem terjaga.

.

B.Anatomi dan Morfologi

ciri-ciri :
            Tubuh terdiri atas lima lengan atau lebih yang tersusun radial
Pada ujung-ujung lengan terdapat alat sensor.
Ujung tentakel pada bintik matayang mengandung pigmen merah ,peka terhadap cahaya.
Permukaan tubuh bagian atas di tutupi duri-duri tumpul berbentuk catut (pediselaria)
Pada umumnya berwarna oranye,biru, ungu, hijauatau gabungan warna-warna tersebut

 Alat organ tubuhnya bercabang ke seluruh lengan Mulut terdapat di permukaan bawah atau disebut permukaan oral dan anus terletak di permukaan atas (permukaan aboral).
Kaki tabung tentakel (tentacle) terdapat pada permukaan oral. Sedangkan pada permukaan aboral selain anus terdapat pula madreporit.
Madreporit adalah sejenis lubang yang mempunyai saringan dalam menghubungkan air laut dengan sistem pembuluh air dan lubang kelamin.

C.Reproduksi
Pertumbuhan A. planci sangat dipengaruhi oleh makanannya. Anakan A. planci yang makan algae mempunyai pertumbuhan sekitar 2,6 mm/bulan, sedangkan yang makan karang mempunyai pertumbuhan sekitar 16,7 mm/bulan (review in Moran 1990). Ketika dewasa, pertumbuhan melambat kembali menjadi sekitar 4,5 mm/bulan. Anakan A. planci yang berukuran kurang dari 10 mm memakan algae, sedangkan yang berukuran 10-160 mm sudah mulai memakan jaringan karang (Moran 1990). Individu dewasa berukuran sekitar 250-400 mm, dengan rekor terbesar adalah 800 mm.
Bintang laut A. planci mempunyai kelamin yang terpisah (berkelamin tunggal), dengan pembuahan eksternal. Rasio kelamin biasanya 1:1 (Moran 1990). Pemijahan terjadi pada musim panas. Di belahan bumi (hemisfer) utara, misalnya Jepang, pemijahan terjadi pada bulan Mei-Agustus. Di belahan bumi selatan, misalnya Australia, pemijahan terjadi pada bulan Nopember-Januari (Moran 1990), atau Desember-April (CRC 2003). Pemijahan berlangsung sekitar 30 menit (Moran 1990). Individu dewasa biasanya bergerombol sebelum pemijahan, dan memijah secara bersama pada saatnya. Ketika seekor betina memijah, maka suatu feromon yang keluar bersama telur akan memicu pemijahan betina lain dan bintang laut jantan yang ada di sekitarnya. Efektivitas feromon dalam memicu pemijahan tetangganya diperkirakan seluas radius 1-2 meter. Pemijahan berjamaah ini sangat penting bagi invertebrata laut untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.
Pemijahan invertebrata banyak dipengaruhi oleh fluktuasi musiman suhu air laut. Pada saat ini, kebanyakan penelitian tentang pemijahan invertebrata dilakukan di kawasan yang mempunyai empat musim atau temperata (temperate). Di kawasan tropis, seperti Indonesia, perbedaan suhu air laut antar musim tidak sebesar di kawasan temperata, sehingga musim pemijahan di kawasan tropis dapat berbeda dari kawasan temperata. Karena itu, mengetahui musim pemijahan A. planci di Indonesia merupakan topik yang masih sangat menarik. Apalagi perairan laut Indonesia merupakan transisi antara Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia.

Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan betina tergantung pada ukuran atau berat tubuh betina. Betina pemijah biasanya berumur 2-3 tahun, atau ukuran diameter tubuhnya lebih dari 25 cm (CRC 2003). Betina yang dewasa mempunyai ukuran tubuh 500-4000 gram, yang memiliki fekunditas sekitar 4-65 juta telur (Moran 1990). Jumlah telur yang sangat besar memang diperlukan oleh kebanyakan invertebrata laut. Kelulushidupan yang rendah harus diimbangi dengan jumlah telur yang sangat besar, sehingga larva yang selamat menjadi dewasa dapat dipertahankan. Telur A. planci berukuran 200 mikron, sedangkan sperma berukuran sekitar 1-2 mikron (Moran 1990). Ukuran telur dan sperma ini tidak banyak berbeda dengan ukuran umum gamet invertebrata laut.

D.Siklus Hidup
Siklus hidup A. planci pada prinsipnya sama persis dengan pola siklus hidup hewan Asteroidea (bintang laut) yang lainnya. Zigot yang terjadi pada saat pemijahan berkembang melalui proses-proses blastulasi dan gastrulasi yang kemudian memasuki tahapan dua fase larva secara berurutan, yaitu bipinnaria dan brachiolaria. Kedua larva tersebut hidup sebagai plankton sehingga pergerakannya mengikuti arah arus. Larva brachiolaria yang matang mempunyai daya apung negatif sehingga turun ke dasar laut yang biasanya di kawasan terumbu karang. Diduga larva brachiolaria menggunakan ‘aroma’ alga berkapur sebagai tanda-tanda untuk turun menempel pada terumbu karang. Setelah menempel di dasar terumbu, dimulailah kehidupan sebagai bentos bagi A. planci. Penempelan larva A. planci kemungkinan terjadi di tempat yang dalam karena pemangsaan karang oleh A. planci biasanya dimulai dari karang di tempat yang dalam.
Periode planktonis dari A. planci berlangsung sekitar dua atau tiga minggu. Makanan larva planktonis A. planci terdiri dari fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut (Okaji et al. 1997). Periode planktonis larva brachiolaria diakhiri dengan berkembangnya lima lengan melalui metamofosis dan menempel di dasar terumbu.     Metamorfosis tersebut terjadi setelah hari ke-12 (Olson 1985). Ukuran diameter A. planci pada saat terjadi penempelan sekitar 0,5-1 mm atau 500-1000 mikron. Anakan A. planci yang sudah menempel di terumbu mendapatkan makanan dari alga berkapur.

        Pada umur sekitar 4-6 bulan, ketika ukuran tubuhnya mencapai 10 mm, A. planci merubah makanannya menjadi pemangsa karang dan mampu tumbuh jauh lebih cepat (review in Keesing and Halford 1992).
Laju mortalitas A. planci sangat tinggi, sebagaimana invertebrata laut lainnya. Laju mortalitas akan berkurang dengan bertambahnya ukuran tubuh A. planci. Pada kotak percobaan di lapangan, laju mortalitas anakan A. planci pada ukuran 1,1 cm atau umur satu bulan adalah 6,49% per hari (Keesing and Halford 1992). Laju mortalitas tersebut menurun pada hewan yang lebih besar menjadi 1,24% per hari pada ukuran 2,7 mm (4 bulan) dan menjadi 0,45% per hari pada ukuran 5,5 mm (7 bulan). Di dalam kajian Moran (1990) disebutkan bahwa laju mortalitas A. planci pada umur 7-23 bulan adalah 99,3%, atau sekitar 1,08 % per hari, sedangkan laju mortalitas A. planci antara umur 22-34 bulan adalah 75%, atau sekitar 0,39% per hari. Ketiga penelitian tersebut dilakukan pada saat terjadi peledakan populasi, sehingga faktor kepadatan populasi dapat berpengaruh.