Program Study Budidaya Perairan (BDP)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1.     Latar Belakang

Kegiatan investasi adalah suatu kegiatan yang memerlukan sumber daya dalam jumlah yang cukup banyak serta memerlukan waktu yang relatif lama. Untuk itu setiap kegiatan investasi sering disebut proyek harus dirancang secara matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek bisnis dan nonbisnis dengan harapan pengkajian terhadap berbagai aspek tersebut memberikan keputusan yang akurat. Proyek merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dapat direncanakan yang di dalamnya menggunakan sumber–sumber (inputs) misalnya uang dan tenaga kerja, untuk mendapatkan manfaat (benefits) atau hasil (returns) pada masa yang akan datang (Pudjosumarto Muljadi, 2002).

Ikan kerapu meruapakan salah satu komoditi perikanan yang pasaran ekspornya cukup menonjol, sehingga selama sekitar 10 tahun terakhir telah berkembang cukup pesat. Karena besarnya permintaan pasaran internasional, menyebabkan munculnya inisiatif masyarakat untuk mengembangkan usaha ikan kerapu dengan cara budidaya kajapung selain dengan mengusahakan secara tradisional yaitu dengan penangkapan di alam. Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi dalam budidaya dan pemasaran hasil ikan kerapu serta menjamin keamanan kredit perbankan, maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system,  akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra, yaitu koperasi dan anggotanya (nelayan plasma), mitra usaha besar dan perbankan. Walaupun aspek pemasaran ikan kerapu secara statistik, baik kualitas maupun kuantitasnya yang diperdagangkan di dalam negeri maupun pasar ekspor, belum dapat diketahui secara rinci, namun berdasarkan total permintaan global pasaran dunia tampak bahwa sampai saat ini potential demand masih belum dapat dipenuhi oleh negara-negara produsen (terutama dari ASEAN).

Oleh karena itu, pada saat ini budidaya ikan kerapu mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar ikan kerapu, baik sebagai komoditas ekspor maupun pasaran dalam negeri.

Secara teknis budidaya ikan kerapu dapat dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, karena didukung oleh sumber daya alam dan iklim yang sesuai dengan tuntutan hidup ikan kerapu. Tetapi untuk memperoleh produktivitas yang tinggi, diperlukan intensifikasi pemeliharaan dan technological engineering terutama dalam penyediaan bibit yang dipijahkan secara teknologis. Oleh sebab itu untuk kepentingan masa depan dan masyarakat nelayan serta pengembangan usaha perikanan pada umumnya, diperlukan adanya partisipasi yang lebih besar lagi dari Lembaga-lembaga penelitian (Pemerintah maupun swasta) untuk mengembangkan penelitian pengadaan bibit budidaya ikan kerapu.

  1.     Tujuan :

    Agar mahasiswa dapat mengetahui proses dan tahap-tahap perencanaan dalam memulai Suatu usaha

1.3    Manfaat

Dapat di jadikan sebagai bahan acuan sekaligus referensi dalam memulai Suatu usaha

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Klasifikasi Ikan Kerapu (Chromileptis sp)

Klasifikasi ikan kerapu bebek menurut Tseng W.Y dan S.K. Ho (1988) dalam Kordi (2001) adalah sebagai berikut :

Divisio        : Perciformes

Filum        : Chordata

Sub class    : Ellasmobranchii

Klas        : Pisces

Ordo        : Percomorphi

Famili        : Serranidae

Genus        : Cromileptis

Spesies        : Cromileptis sp

2.2.    Penyebaran dan Habitat

Daerah penyebaran kerapu tikus di mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar. Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir

berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Parameter-parameter ekonlogis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 – 310C, salinitas antara 30 -33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang.

2.3.    Pengembangan Komoditas Ikan Kerapu

Ikan laut masih relatif murah dibandingkan dengan sumber protein hewan, misalnya daging ayam, daging domba, dan daging sapi. Oleh karena itu, meskipun produksi ikan naik, masalah pemasaran ikan laut mungkin tidak akan timbul di pasar ikan dalam negeri maupun luar negeri. Peluang untuk memasarkan ikan khususnya ikan kerapu di Indonesia maupun di luar negeri sangat baik. Faktor elastisitas harga ikan relatif rendah, yaitu 1,06, berarti permintaan ikan dari para konsumen akan menurun sedikit, yaitu 0,6% bilamana harga jual ikan naik 1%. Sebagian besar dari produksi ikan dipasarkan sebagai ikan segar. Hanya sebagian kecil diolah menjadi “fillet” beku, ikan asin, ikan kering, ikan kaleng, ikan asap, ataupun tepung ikan. Kurangnya pengolahan ikan juga merupakan indikasi bahwa permintaan ikan dari masyarakat mantap dan cenderung naik.

2.3.     Analisis Produksi

Kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas. Dikenal 3 jenis ikan kerapu, yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan ini disarankan jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kilogramnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis kerapu lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internsional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam.

2.4.     Proses Budidaya

Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai.

2.4.1.    Pemilihan Benih

Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

2.4.2.    Penebaran Benih

Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah : (a) waktu penebaran (sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.

2.4.3    Pendederan

Benih ikan kerapu ukuran panjang 4 – 5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5x3x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke jarring besar ukuran 3x3x3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukurankonsumsi (500 gram).

2.4.4.    Pakan dan Pemberiannya

Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebardapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah.

2.5    Hama dan Penyakit

Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).

2.6    Panen dan Penanganan Pasca Panen

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Waktu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 – 1000 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen, berupa : scoop, kerancang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA dengan metode panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi.

Sedang panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual. Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai 2/3 bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut diusahakan tetap konstan selama perjalanan yaitu 19-210C. Selama pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50kg/wadah. Cara pengangkutan yang umum digunakan adalah dengan pengangkutan tertutup dan umumnya untuk pengangkutan dengan pesawat udara. Untuk itu, 1 kemasan untuk 1 ekor ikan dengan berat rata-rata 500 gram.

2.7.     Konstruksi Keramba Jaring Apung

2.7.1    Pembuatan Rakit Keramba

  • Rakit

Rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran bingkaii rakit biasanya 6 x 6 m atau 8 x 8 m.

  • Pelampung

    Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan drum bekas atau drum plastik bervolume 200 liter, styreofoam dan drum fiber glass. Kebutuhan pelampung untuk satu unit rakit ukuran 6×6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah pelampung dan 12 buah pelampung untuk rakit berukuran 8×8 m.

  • Pengikat

    Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm.

  • Jangkar

    Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25 – 50 kg yang peletakannya dibuatt sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah talii plastik/PE berdiameter 0,5 – 1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali kedalaman perairan.

2.7.2    Pembuatan Jaring

  • Jaring

Kantong jaring yang dipergunakan dalam usaha budidaya ikan kerapu, sebaiknya terdiri dari dua bagian, yaitu :

(a) Kantong jaring luar yang berfungsi sebagai pelindung ikan dari serangan ikan-ikan buas dan hewan air lainnya. Ukuran kantong dan lebar mata jarring untu kantong jaring luar lenih besar dari kantong jaring dalam;

(b) Kantong jaring dalam, yang dipergunakan sebagai tempat memelihara ikan. Ukurannya bervariasi dengan pertimbangan banyaknya ikan yang dipelihara dan kemudahan dalam penanganan dan perawatannya.

  • Pemberat

Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris. Pemberat yang terbuat dari batu, timah atau beton dengan berat 2 – 5 kg per buah, dipasang pada tiap-tiap sudutt keramba atau jaring.

2.8.    Teknik Analisis Data

     Sesuai dengan maksud dan tujuan dari kegiatan ini, maka digunakan pendekatan analisis keunggulan dan dilanjutkan dengan analisis kelayakan pengembangan melalui perhitungan Net Present Value (NPV); Net B/C Ratio, Internal Rate of Return (IRR); Rate of Return On Investment (ROI); Payback Period (PBP); dan Break Even Point (BEP). Secara matematis, formulasi perhitungan untuk masing-masing kriteria di atas, adalah sebagai berikut :

di mana : NPV = nilai Net Present Value; Bt = Benefit pada tahun ke- t; Ct =

Biaya pada tahun ke-t; t = lamanya waktu/umur investasi; i=Tingkat bunga yang

berlaku.

BAB IV

PROFIL INVESTASI

4.1.     Analisis Teknis Investasi

4.1.1.     Perkiraan Modal Atau Biaya Investasi dan Biaya Produksi

Untuk mendirikan usaha atau proyek pengembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring apung, dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja.

a. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m

b. Pembuatan waring berukuran 1 x 1 x 1,5 m

c. Pembuatan jaring ukuran 3 x 3 x 3 m

d. Pembuatan rumah jaga

e. Pengadaan sarana kerja

Sedang untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar, upah atau gaji, dan lain-lain. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di wilayah proyek dan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, adalah :

1. Umur proyek 5 tahun.

2. Sumber dana untuk membiayi kegiatan investasi khusus untuk biaya investasi berasal dari pinjaman sebesar Rp. 15,000,000,- dengan tingkat bunga 18% per tahun (flat) dalam jangka waktu 5 tahun.

3. Pajak penghasilan 15 % per tahun.

4. Penyusutan atas aktiva tetap dihitung dengan metode garis lurus dengan nilai sisa = 0 dan umur ekonomis dari setiap asset 5 tahun.

5. Benih yang ditebarkan berukuran 4-5 cm sebanyak 2,500 ekor dengan tingkat kehidupan sampaii umur panen 65% dengan berat 450 gram/ekor.

6. Jangka waktu pembesaran atau umur produksi untuk mencapai berat jual atau panen adalah 12 bulan (1 tahun).

7. Harga jual Rp. 317,000,000,- per kilogram.

Atas dasar asumsi-asumsi di atas, hasil perkiraan biaya investasi dan biaya variabel, seperti terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1

Perkiraan Biaya Investasi Usaha Penangkapan Ikan Pelagis Kecil

Komponen

Jumlah (Rp)

%

Biaya Investasi

28,597,500

26.2

Biaya Variabel

68,851,613

63.0

Biaya Tetap

11,838,917

10.8

Total

109,288,030

100.0

Total besarnya biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap sebesar Rp.109,288,030,- di mana biaya terbesar adalah biaya variabel mencapai 63% diikuti oleh biaya investasi 26.2% dari total biaya. Rincian biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA disajikan pada tabel 2 dan tabel 3.

Tabel 2. Perkiraan Biaya Investasi Budidaya Ikan Kerapu Tikus

Dengan Sistem Keramba Jaring Apung

Komponen

Jumlah Harga

Rp

Satuan Harga

Rp

Total

I. Pembuatan Rakit 1 buah
1. Pelampung Styrofoam 12 buah 250,000 3,000,000
  1. Kayu Balok
15 batang 125,000 1,875,000
4. Papan Pijakan 24 lembar 40,000 960,000
5. Tali PE pengikat pelampung 1 gulung 75,000 75,000
6. Tali P12 mm 50 kg 20,000 1,000,000
7. Paku 10 kg 15,000 150,000
8. Baut 36 buah 7,500 270,000
9. Jangkar besi 4 buah 150,000 600,000
10. Upah kerja 1 unit 350,000 350,000
Jumlah I 8,280,000
II. Pembuatan Waring 16 unit
1. Waring 200 m 5,000 1,000,000
2. Tali PE diameter 0.6 cm 3 gulung 50,000 150,000
3. Upah kerja 16 unit 25,000 400,000
Jumlah II 1,550,000
III. Pembuatan Jaring 8 unit
1. Jaring PE 1.25 1.5 inchi 50 kg 75,000 3,750,000
2. Tali PE diameter 0.8 cm 3 gulung 75,000 225,000
3. Upah kerja 8 unit 35,000 280,000
Jumlah III 4,255,000
IV. Rumah Jaga 1 unit
1. Kayu Balok 20 batang 50,000 1,000,000
2. Papan 5 batang 15,000 75,000
3. Sesek Bambu (dinding) 10 lembar 15,000 150,000
4. Paku 5 kg 15,000 75,000
5. Baut 15 buah 7,500 112,500
6. Upah Kerja 1 unit 350,000 350,000
Jumlah IV 1,762,500
V. Sarana Kerja
1. Perahu motor 1 unit 7,500,000 7,500,000
2. Bak Penampung 3 buah 1,500,000 4,500,000
3. Peralatan Lapangan/kerja 1 paket 750,000 750,000
Jumlah V 12,750,000
Total Biaya Investasi 28,597,500

Tabel 3. Perkiraan Biaya Operasional Budidaya Ikan Kerapu Tikus

Di Kabupaten Kupang Dengan Sistem Keramba Jaring Apung

Komponen

Jumlah

Harga Satuan

(Rp)

Harga Total

(Rp)

  1. Biaya Variabel
  1. Benih

2.500 ekor

7.500

18,750.000

  1. Pakan ikan Segar

4.000 kg

3.000

12,000.000

  1. Bahan Bakar + Lmapu

1 paket

7.500.000

7.500.000

  1. Es Balok

175 balok

7.500

1.312.500

  1. Gaji dan Upah :
Pekerja : 2 org x 12 Bln

24 OB

450.000

10.800.000

Teknisi : 1 org x 12 Bln

12 OB

900.000

10.800.000

  1. Perawatan (5% dari biaya inventasi)

1 paket

1.429.875

1.429.875

  1. Biaya lain-lainya (10 % dari biaya variabel)

1 paket

6.259..238

6.259.238

Total Biaya Variabel

68.851.613

  1. Biaya Tetap
  1. Penyusun

6.138.917

  1. Angsuran

3.000.000

  1. Bunga Pinjaman (18 %/tahun)

2.700.000

Total Biaya Tetap

11.838.917

Total Biaya Operasional

80.690.530

4.1.2.     Analisis Profitability Financial

Analisis ini dilakukan untuk melihat kelayakan dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA yang meliputi :

4.1.2.1. Analisis Proyeksi Rugi Laba

Perhitungan atau analisis rugi laba dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA ini didasarkan pada asumsi-asumsi seperti yang telah dikemukakan terdahulu. Hasil analisisnya seperti ditunjukkan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4

Analisis Rugi Laba Usaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus

Dengan Sistem KJA (Rp.000)

No.

Uraian

Total (Rp)

1.

Total Biaya

737,993

2.

Total Penerimaan

1,212,525

3.

Total Pendapatan sebelum Pajak

474,532

4.

Pajak Penghasilan (15%)

71,179.73

5.

Total Pendapatan Bersih setelah Pajak

403,351.80

Dari Tabel 4, terlihat bahwa usaha budidaya ikan kerapu tikus selama 5 tahun atau 5 kali siklus produksi memberikan pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp.403,351.80,- Rinciannya, dapat disimak pada Tabel 5.

4.1.2.2. Analisis Cash Flow dan Kelayakan Investasi

Analisis ini menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA selama 5 tahun usaha. Nampak bahwa, investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteria-kriteria kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA sbb :

Tabel 4

Kriteria Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus

Dengan Sistem KJA

No.

Kriteria Kelayakan

Nilai Kriteria

1.

Net Present Value/NPV pada DF 18% (Rp.000)

441,080,000.-

2.

Net B/C Ratio pada DF 18%

3.53

3.

Internal Rate of Return/IRR (%)

69.4

4.

Payback Period/PBP

Tahun Ke-1

5.

Rate of Return On Investment/ROI (%)

64.3

6.

Break Even Point/BEP :
  • Unit kg
  • Rupiah

307.40

144,369/kg

4.1.2.3. Analisis Payback Period

Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh kembali dana atau biaya yang telah diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu. Dari Tabel 4, terlihat bahwa dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun atau tepatnya 1.56 kali proses produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali.

4.1.2.4. Analisis Net Present Value (NPV)

Analisis ini menunjukkan nilai uang yang diterima dari dana yang diinvestasikan pada saat ini. Dari Tabel 4, terlihat bahwa dari total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp. 441,080,000,- dengan Net B/C Ratio sebesar 3.53 pada tingkat diskonto (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu tikus secara finansial layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Dapat di lihat pada Tabel 5.

Tabel 5

Perkiraan Biaya dan Penerimaan dari Budidaya Ikan Kerapu Tikus

Dengan Sistem Keramba Jaring Apung (Rp.000)

URAIAN

TAHUN KE

0

1

2

3

4

5

BIAYA INVESTAS
  1. Pembuatan Rakit
8.280
  1. Pembuatan Waring
1.550
  1. Pembuatan Jaring
4.255
  1. Pembuatan Rumah jaga
1.782.5
  1. Sarana Kerja
12.750
Total Biaya Investasi 28.597.5
Biaya Variabel
Benih

8.750

19.688

20.672

21.705

22.791

23.930

Pakan Ikan Segar

12.000

12.600

13.230

13.892

14.589

15.315

Bahan Bakar + Lampu

7.500

7.875

8.269

8.682

9.116

9.572

Es Balok

1.312.5

1.378

1.447

1.519

1.595

1.675

Gaji dan Upah

21.600

22.680

23.814

25.005

28.255

27.588

Perawatan

1.430

1.502

1.577

1.655

1.738

1.825

Lain-lain

6.259

6.572

6.901

7.248

7.608

7.988

Total Biaya Variabel

68.851.5

72.294

75.910

79.704

83.689

87,873

BIAYA TETAP
Penyusutan

6.139

6.139

6.139

6.139

6.139

Angsuran

3.000

3.000

3.000

3.000

3.000

Bunga Pinjaman

2.700

2.700

2.700

2.700

2.700

Total Biaya Tetap

11.839

11.839

11.839

11.839

11.839

Total Biaya

97.449.0

84.133

87.749

91.543

95.528

99.712

PENERIMAAN
Produksi (kg)

675

675

675

675

675

Harga per kg

317.000

317.000

317.000

317.000

317.000

Penerimaan

213.975

213.975

213.975

285.300

285.300

4.1.2.5. Analisis Internal Rate of Return (IRR)

Analisis ini dimaksudkan untuk melihat kekuatan arus perputaran modal di dalam usaha. Hasil analisis diperoleh IRR sebesar 69.4% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, menunjukkan bahwa investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu adalah layak untuk diusahakan.

4.1.2.6. Analisis Rate of Return On Investment (ROI)

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor. Hasil analisis diperoleh nilai ROI untuk investasi usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di sebesar 64.3%.

4.1.2.7. Analisis Break Even Point (BEP)

Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa jumlah produk yang harus dijual atau berapa harga jualnya agar perusahaan itu tidak mengalami kerugian. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya ikan kerapu tikus ini setiap tahunnya minimum sebanyak 307.40 kg atau dengan harga jual Rp.144,369,- per kilogram.

BAB V

PENUTUP

Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, maka pengembangan bidang atau komoditas potensial yang didukung oleh sumberdaya alam, sumberdaya manusia serta prasarana dan sarana penunjang yang tersedia baik jumlah maupun kualitas yang memadai, mutlak menjadi bahan pertimbangan. Bidang usaha budidaya ikan kerapu di sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha yang mempunyai prospek ekonomi dan finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan. Hal ini karena sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas perairan laut yang memiliki potensi sumberdaya laut yang tinggi, tersedianya prasarana dan sarana baik fisik kewilayahan maupun sumberdaya perikanan yang cukup memadai, tersedianya pasar potensial, serta adanya dukungan dari masyarakat dan pemerintah.