BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon)


:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

 

Nama    : RAHMAN PELU

Npm    : 051 709 021

Prodi     : BDP

Semester     : Lima (V)

 

 

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon)

 

I. KLASIFIKASI UDANG WINDU (Penaeus monodon)

Klasifikasi udang Windu adalah sebagai berikut:

Klas : Crustacea

Sub-klas : Malacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Sub-ordo : Natantia

Famili : Palaemonidae, Penaeidae

Genus      : Penaeus

Spesies    : Penaeus monodon

II. PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA

Pantai merupakan daerah terendah dari suatu aliran sungai. Akibatnya, kualitas air tawar di daerah hilir atau di lokasi tambak menjadi rawan terhadap pengaruh negatif dari daerah hulu, seperti endapan sedimen, hanyutan peptisida, dan polutan industri atau polutan rumah tangga. Dengan kata lain, pengelolaan air yang tidak baik di daerah hulu dapat berakibat buruk pada daerah hilir. Persoalan ini menunjukkan bahwa pengelolaan daerah pantai tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan daerah hulu. Karena itu pembangunan tambak budidaya udang windu hendaknya didukung oleh persyaratan seperti berikut ini.

  1. Tambak dibangun di luar wilayah padat penduduk dan industri
  2. Lokasi tambak bukan kawasan hutan suaka alam, hutan wisata, dan hutan produksi.
  3. Tambak memiliki sumber air yang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya.
  4. Tambak memiliki saluran irigasi yang memenuhi syarat agar air tersedia secara teratur, memadai, dan terjamin.
  5. Sumber air tawar tidak berasal dari air tanah (sumur bor) karena penggunaan air tanah dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian, yakni terjadinya instrusi air laut (peresapan air laut ke perairan tawar) yang menyebabkan terjadinva penurunan permukaan tanah.

III. PENYIAPAN SARANA DAN PERALATAN

Syarat konstruksi tambak:

  • Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir. Jarak minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter dari bantara sungai.
  • Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.
  • Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan terhadap erosi air.
  • Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga menghemat tenaga.
  • Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.
  • Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.
  • Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air.

     

Teknik pembuatan tambak dibagi dalam tiga sistem yang disesuaikan dengan letak, biaya, dan operasi pelaksanaannya, yaitu tambak ekstensif, semi intensif, dan intensif.

 

IV. PEMBIBITAN

4.1. Menyiapkan Benih (Benur)

Benur/benih udang bisa didapat dari tempat pembenihan (Hatchery) atau dari alam. Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut ukurannya, yaitu :

  1. Benih yang masih halus, yang disebut post larva. Terdapat di tepi-tepi pantai. Hidupnya bersifat pelagis, yaitu berenang dekat permukaan air. Warnanya coklat kemerahan. Panjang 9-15 mm. Cucuk kepala lurus atau sedikit melengkung seperti huruf S dengan bentuk keseluruhan seperti jet. Ekornya membentang seperti kipas.
  2. Benih yang sudah besar atau benih kasar yang disebut juvenil. Biasanya telah memasuki muara sungai atau terusan. Hidupnya bersifat benthis, yaitu suka berdiam dekat dasar perairan atau kadang menempel pada benda yang terendam air. Sungutnya berbelang-belang selang-seling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna biru kehijauan atau kecoklatan sampai kehitaman. Pangkal kaki renang berbelang-belang kuning biru.

4.2. Perlakuan dan Perawatan Benih

1. Cara Pengipukan/pendederan benur di petak pengipukan

  • Petak terbuat dari daun kelapa atau daun nipah, agar benur yang masih lemah terlindung dari terik matahari atau hujan.
  • Benih yang baru datang, diaklitimasikan dulu
  • Kepadatan pada petak Ini 1000-3000 ekor. Pakan yang diberikan berupa campuran telur ayam rebus dan daging udang atau ikan yang dihaluskan.
  • Pakan tambahan berupa pellet udang yang dihaluskan. Pemberian pelet dilakukan sebanyak 10-20 % kali jumlah berat benih udang per hari dan diberikan pada sore hari.

2. Cara Pengipukan di dalam Hapa

  • Hapa adalah kotak yang dibuat dari jaring nilon dengan mata jaring 3-5 mm agar benur tidak dapat lolos.
  • Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kehendak, misalnya panjang 4- 6 m, lebar 1-1,5 m, tinggi 0,5-1 m.
  • Kepadatan benur di dalam hapa 500-1000 ekor/m 2 .
  • Pakan benur dapat berupa kelekap atau lumut-lumut dari petakantambak di sekitarnya.
  • Lama pemeliharaan benur dalam ipukan 2-4 minggu, sampai panjangnya 3-5 cm dengan persentase hidup 70-90%.
  • Jaring sebagai dinding hapa harus dibersihkan seminggu sekali.
  • Hapa sangat berguna bagi petani tambak, yaitu untuk tempat aklitimasi benur, atau sewaktu-waktu dipergunakan menampung ikan atau udang yang dikehendaki agar tetap hidup.

3. Cara pengangkutan:

  • Pengangkutan menggunakan kantong plastik:
  • Kantong plastik yang berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tebal 0,008 mm, diisi air 1/3 bagian dan diisi benih 1000 ekor.
  • Kantong plastik tersebut dimasukkan dalam kotak kardus yang diberi styrofore foam sebagai penahan panas dan kantong plastik kecil yang berisi pecahan-pecahan es kecil yang jumlahnya 10% dari berat airnya. Benih dapat diangkut pada suhu 27-30 derajat C selama 10 jam perjalanan dengan angka kematian 10-20%.
  • Jumlah benih yang dapat diangkut antara 500-700 ekor/liter. Selama 6- 8 jam perjalanan, angka kematiannya sekitar 6%.
  • Untuk menurunkan suhunya bisa menggunakan es batu.

4. Waktu Penebaran Benur

Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh.

 

V. PEMELIHARAAN PEMBESARAN

5.1. Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu:

kelekap, lumut, plankton, dan bentos.

5.2. Pemberian Pakan

Makanan untuk tiap periode kehidupan udang berbeda-beda. Makanan udang

yang dapat digunakan dalam budidaya terdiri dari:

1. Makanan alami:

  • Burayak tingkat nauplius, makanan dari cadangan isi kantong telurnya.
  • Burayak tingkat zoea, makanannya plankton nabati, yaitu Diatomaeae (Skeletonema, Navicula, Amphora, dll) dan Dinoflagellata (Tetraselmis, dll).
  • Burayak tingkat mysis, makanannya plankton hewani, Protozoa, Rotifera, (Branchionus), anak tritip (Balanus), anak kutu air (Copepoda), dll.
  • Burayak tingkat post larva (PL), dan udang muda (juvenil), selain makanan di atas juga makan Diatomaee dan Cyanophyceae yang tumbuh di dasar perairan (bentos), anak tiram, anak tritip, anak udanng-udangan (Crustacea) lainnya, cacing annelida dan juga detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membususk).
  • Udang dewasa, makanannya daging binatang lunak atau Mollusca (kerang, tiram, siput), cacing Annelida, yaitut cacing Pollychaeta, udang-udangan, anak serangga (Chironomus), dll.
  • Dalam usaha budidaya, udang dapat makan makanan alami yang tumbuh di tambak, yaitu kelekap, lumut, plankton, dan bentos.

2. Makanan Tambahan

Makanan tambahan biasanya dibutuhkan setelah masa pemeliharaan 3 bulan. Makanan tambahan tersebut dapat berupa:

  • Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah.
  • Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah, ketam, siput, dan udang-udangan.
  • Kulit kerbau atau sisa pemotongan ternak yang lain. Kulit kerbau dipotong-potong 2,5 cm 2 , kemudian ditusuk sate.
  • Sisa-sisa pemotongan katak.
  • Bekicot yang telah dipecahkan kulitnya.
  • Makanan anak ayam.
  • Daging kerang dan remis.
  • Trisipan dari tambak yang dikumpulkan dan dipech kulitnya.

3. Makanan Buatan (Pelet):

Takaran Ransum Udang dan Cara Pemberian Pakan:

  • Udang diberi pakan 4-6 x sehari sedikit demi sedikit.
  • Jumlah pakan yang diberikan kepada benur 15-20% dari berat tubuhnya per hari.
  • Jumlah pakan udang dewasa sekitar 5-10% berat tubuhnya/ hari.
  • Pemberian pakan dilakukan pada sore hari lebih baik.


VI. PENYAKIT.

Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;

1. Bintik Putih.

Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.

2. Bintik Hitam/Black Spot

Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.

3. Kotoran Putih/mencret

Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.

4. Insang Merah

Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.

5. Nekrosis

Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.

Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.

 


VII. PANEN.

Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.

Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

 

 

 

 

 

    
 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darmono. 1991. Budidaya Udang Penaeus . Kanisius. Yogyakarta.

Hanadi, S. 1992. Pengolahan Udang Beku. Karya Anda. Surabaya.

Heruwati, E.S. dan Rahayu, S. 1994. Penanganan dan Pengelolaan Pasca

Panen Udang unutuk Meningkatkan Mutu dan Mendapatkan Nilai Tambah.

Dalam Kumpulan Kliping Udang II. Trubus.

Mudjiman, A. 1987. Budidaya Udang Galah. Penebar Swadaya. Jakarta.

__________ . 1988. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.

__________ . 1994. Udang yang Bikin Sehat. Dalam Kumpulan Kliping Udang II. Trubus.

Murtidjo, B.A. 1992. Budidaya Udang Windu Sistem Monokultur. Kanisius.

Yogyakarta.