REPRODUKSI KRUSTASE

 


 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

 

Nama     : RAMAN PELU

Npm     : 051 709 021

Prodi     : BDP

Semester     : V (Lima)

 

 

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kepiting bakau (Scylla serrata Forskal) merupakan salah satu hasil perikanan pantai yang banyak disenangi masyarakat karena rasa dagingnya enak terutama daging kepiting yang sedang bertelur karena kandungan proteinnya tinggi. Oleh karena itu daging kepiting mempunyai nilai jual yang tinggi dengan harga bervariasi menurut tempat dan permintaan masyarakat (Kasry, 1996).

Kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan dengan cara mengkonsumsi makanan bergizi yang berkalori rendah turut menempatkan kepiting sebagai makanan sehat. Bagian kepiting yang dapat dimakan secara keseluruhan mencapai 45% dan di dalamnya mengandung 65,75% protein, 7,5 mineral dan 10,88% lemak bahkan kandungan protein telur kepiting lebih tinggi hingga mencapai 88,55%, mineral 3,2% dan lemak 8,16% (Anonim,1996).

Pematangan gonad kepiting bakau dapat dipacu melalui manipulasi hormon dengan tehnik ablasi tangkai mata (John dan Sivadas 1978 ;I979 ; Sulaeman dan Hanafi 1992 ; Fattah 19981, rekayasa pakan ( Fattah 1998 ; Jalil 1999) dan pendekatan lingkungan (Fujaya 1996). Ablasi tangkai mata adalah suatu proses untuk menghilangkan system neurosecretory (sel-sel neurosecretorylorgan-X dan sinus gland) yang terletak pada tangkai mata kepiting bakau dengan cara memotong bagian tertentu dari tangkai mata tersebut. Sel neurosecretory (organ-X) dm sinus gland merupakan organ penghasil dan penyimpan serta pendistribusi produk secretory, yang salah satu diantamnya adalah hormon penghambat perkembangan gonad (gonado inhibiting hormone, GIH). Hilangnya sel-sel neurosecretory (organ-X) dan sinus gland akan menyebabkan GIH tereduksi, sebingga perkembangan gonad tidak terbambat. Tereduksinya GIH mengakibatkan hormone perangsang perkembangan gonad (gonado stimulating hormone, GSH) dapat bekeja maksimal merangsang perkembangan gonad (Adiyodi dan Adiyodi 1970), sehingga diharapkan proses pematangan gonad dapat berlangsung lebih cepat.

Pada dasarnya ablasi tangkai mata pada Krustasea telah lama dikenal sebagai cara yang cepat dan murah untuk merangsang proses pemasakan telur. Akan tetapi berkembang pemahaman bahwa teknik ablasi mata memiliki resiko yang tinggi yakni dapat menyebabkan stress dan kematian pada induk kepiting bakau, juga menyebabkan rendahnya kualitas dan kuantitas telu yang diasilkan. Kualitas telur yang rendah akan mempengaruhi kualitas embrio dan larva yang akan dihasilkan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

Menurut kasry (1996) kepiting bakau (Scylla olivacea) merupakan salah satu spesies dari family Portunidae, memiliki asosiasi yang dekat dengan lingkungan mangrove, sehingga dikenal dengan nama kepiting bakau atau mud crab yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Fhilum : Arthropoda

Subfilum : Mandibulata

Subklas : Malakcostraca

Ordo : Decapoda

Subordo : Raptantia

Family : Portunidae

Genus : Scylla

Spesies : Scylla olivacea        Gambar : Kepiting Bakau

 

2.2. Morfologi

Kepiting bakau memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaanya agak licin, pada dahi antara sepasang matanya terdapat enam buah duri dan di samping kanan dan kirinya masing-masing terdapat enambuah duri,kepiting bakau jantan mempunyai sepasang capit yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat dari panjang karapasnya,sedangkan kepiting bakau betina relative lebih pendek.selain itu,kepiting bakau juga mempunyai tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang,dan juga bagian kepala dan dada menjadi satu serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh lebih besar dan lebih lebar,dapat hidup dan bertahan lama di darat . Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:

• 2 pasang antenna

• 1 pasang mandibula, untuk menggigit mangsanya

• 1 pasang maksilla

• 1 pasang maksilliped

Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut.

 

2.3. Siklus hidup

 

Kepiting bakau dalam menjalani kehidupanya beruaya dari perairan pantai ke laut,kemudian induk berusaha kembali ke perairan pantai, muara sungai,atau parairan yang berhutan bakau untuk baerlindung,maecari makanan,dan membesarkan diri.kepiting betina yang telah malakukan perkawinan secara berlahan dan pelan-pelan akan beruaya ke perairan bakau,dan kembalih ke laut untuk melakukan pemijahan,kepiting yang telah kembali kelaut akan mencari perairan yang kondisinya cocok untuk melakukan pemijahan khususnya terhadap suhu dan saliniyas air laut. Peristiwa pemijahan terjadi pada periode bulan-bulan tertentu, terutama awal tahun. Jarak yang ditempuh dalam beruaya untuk memijah biasanya tidak lebih dari satu kilometer kearah laut menjauhi pantai menuju tempat.Pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, kepiting dapat bertahan hidup hingga mencapai umur 3-4 tahun. Sementara itu, pada umur 12-14 bulan kepiting sudah dianggap dewasa dan dapat dipijahkan. Sekali memijah, kepiting mampu menghasilkan jutaan telur 2.000.000 – 8.000.000 telur tergantung dari ukuran dan umur kepiting betina yang memijah.

 

2.4. Sistem pencernaan

Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah. Jenis pakan yang di konsumsi kepiting bakau dapat berupah artemia,ikan rucah,daging kerang-kerangan,hancuran daging siput,dan lumut.pemberian pakan tergantung pada ukuran kepiting bakau,bila masih larva biasanya Brachionus plicatilis,Tetracelmis chuii dan naupli artemia.kepiting bakau juga bersifat kanibalisme biasanya dia akan menyarang kepiting lain yang sedang dalam kondisih lemah atau ganti kulit ( molting ).

Alat pencernaan terbagi menjadi tiga,tembolok,lambung otot,lambung kelenjar.didalam perut kepiting terdapat gigi kalsium yang teratur berderet secara longitudinal,selain gigi kalsium juga terdapat gastrolik yang berfungsi mengeraskan rangka luar (eksoskeleton) setelah terjadi eksdisis (penegelupasan kulit). Urutan pencernaan makanannya dimulai dari mulut, kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus dan anus. Hati (hepar) terletak di dekat lambung. Sisa-sisa metabolisme tubuh diekskresikan lewat kelenjar hijau.

2.5. Sistem peredaran darah

Sistem sirkulasi adalah sistem yang berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 dari perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, juga mengangkut enzim, zat-zat nutrisi, garam-garam, hormon, dan anti bodi serta mengangkut CO2 dari dalam usus, kelenjar-kelenjar, insang, dan sebagainya, keluar tubuh. Sistem peredaran darah pada kepiting bakau disebut peredaran darah terbuka karena beredar tanpa melelui pembuluh darah. Darah tidak mengandung hemoglobin (Hb) melainkan hemosianin yang daya ikatnya terhadap oksigen rendah

 

2.6. Sistem respirasi/pernapasan

Pernafasan : pertukaran CO2 (sisa-sisa proses metabolisme tubuh yg harus dibuang) dengan O2 (berasal dari perairan, dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dsb). Kepiting bakau bernapas umumnya dengan insang, kecuali yang bertubuh sangat kecil dengan seluruh permukaan tubuhnya dan memiliki sebuah jantung untuk memompa darah.

Mekanisme pernafasan :Pertukaran gas CO2 dan O2 terjadi secara difusi ketika air dari kepiting yang masuk melalui mulut, terdorong ke arah daerah insang. O2 yang banyak dikandung di dalam air akan diikat oleh hemosianin, sedangkan CO2 yang dikandung di dalam darah akan dikeluarkan ke perairan. Darah yang sudah banyak mengandung O2 kemudian diedarkan kembali ke seluruh organ tubuh dan seterusnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan O2 pada kepiting bakau :

1. ukuran dan umur (standia hidup)

2. aktivitas kepiting bakau

3. Jenis kelamin

4. Stadia reproduksi

III. REPRODUKSI KEPITING BAKAU

3.1. Alat reprodusi

Kepiting bakau jantan dan betina dapat dibedakan dengan mengamati alat kelamin yang terdapat dibagian perut. Pada bagian perut jantan umumnya terdapat organ kelamin berbentuk segi tiga yang sempit dan dapat meruncing di bagian depan. Organ kelamin betina berbentuk segitiga yang relatif lebar dan di bagian depan agak tumpul.

Kepiting jantan dan betina dibedakan oleh ruas abdomennya. Ruas abdomen kepiting jantan berbentuk segitiga, sedangkan pada kepiting betina berbentuk agak membulat dan lebih lebar. Dan perkawinan terjadi di saat suhu air mulai naik,biasanya betina akan mengeluarkan cairan kimiawi perangsang,yaitu pheromone kedalam air untuk menarik perhatian kepiting jantan,setela jantan berhasil terpikat maka kepiting jantan akan naik ke atas karapas kepiting betina untuk berganti kulit (molting),selama kepiting betina molting maka kepiting jantan akan melindungi kepiting betina selama 2-4 hari sampai cangkang terlepas,kepiting jantan akan membalikkan tubuh kepiting betina untuk melakukan kopulasi/perkawinan.biasanya,kopulasi berlangsung 7-12 jam dan hanya akan terjadi jika karapas kepiting betina dalam ke adan lunak.

Spermatofor kepiting jantan akan di simpan di dalam supermateka kepiting betina sampai telur siap di buahi.telur di dalam tubuh kepiting betina yang suda matang akan turun ke oviduk dan akan di buahi oleh sperma. proses pemijahan kepiting bakau tidak halnya seperti udang yang hanya terjadi pada malam hari ( kondisi gelap ).kepiting bakau juga dapat melakukan perkawinan/pemijahan pada siang hari.

 

3.1. Sistem saraf dan hormone

Kedua sistem ini dapat dikatakan sebagai sistem koordinasi untuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan dan perubahan status kehidupan (reproduksi). Perubahan lingkungan akan diinformasikan ke sistem saraf (saraf pusat), saraf akan merangsang kelenjar endokrin agar hormon dikirim ketempat yang di tuju untuk mengeluarkan hormon-hormon yang dibutuhkan agar merangsang organ yang teleh di tentukan dan aktivitas metabolisme jaringan-jaringan. Sistem saraf terdiri dari system saraf tangga tali pada system sarafnya terjadi pengumpulan dan penyatuan gangliondan dari pasangan-pasangan gangflion dan dari pasangan ganglion keluar saraf yang menuju ketepi.alat indra berupa sepasang mata majemuk ( faset ) bertangkai yang berkembang dengan baik.

Sistem Hormon : Hormon dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar hormone,yaitu hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon ekskresi & osmoregulasi. Menurut hasil kelenjar hormon :

  • endo hormon : yang bekerja di dalam tubuh, seperti hormon-hormon di atas
  • ekto hormon : yang bekerja di luar tubuh, seperti fenomen : merangsang jenis kelamin lain mendekat untuk berpijah.

Tabel TKG Kepitin Bakau

TKG

Jantan

Betina

I

Testis seperti tilamen, berwarna putih jernih, terletak dekat jantung di bawah hati

Ovarium belum berkembang dan berbentuk sepasang filament yang mengarah ke punggung, terletak di atas kelenjar pencernaan yang berwarna kuning, ovarium berwarna jernih keputihan

II

Testis mulai membesar dibandingkan TKG I, berwarna putih jernih

Ukuran ovarium bertambah dan mulai meluas ke sekitarnya, warna menjadi putih susu

III

Testis bentuknya jelas. Berwarna putih susu

Ovarium bertambah dan menghias ke sekitarnya. Warna menjadi kuning pucat

IV

Seperti TKG III, namun ukurannva semakin besar

Volume ovarium semakin membesar, hampir mengisi seluruh rongga dada (cephalothorax). Telur berwarna kuning pucat sampai kuning emas. Kelenjar pencernaan makin mengecil terdesak oleh perkembangan ovarium. Butiran telur dapat terlihat dengan bantuan mikrokop.

V

Testis terlihat dengan jelas, berwarna putih susu dan bentuknya semakin pejal

Ovarium penuh dengan sel hampir matang berwarna oranye

sampai merah tua, bila karapas dibuka hampir seluruh dada hanya berisi ovarium

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 1996. Laporan Uji Coba Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal) Dalam Karamba. Unit Pembinaan Budidaya Air Payau. Bangil. Anonim,. 1997. Budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrataForskal). Dinas Perikanan Daerah Propinsi Daerah
Tingkat I Jawa Timur.

Adikara, R. T. S. 1997. Aplikasi Teknologi Laser Untuk Produksi Pada Ternak. Pusat Penelitian Bioenergi Lembaga Penelitian Universitas Airlangga Surabaya.

Hongstrand, C. 1998. Comparison Physiology, Endocrinology (Chapter H). Syllabus. Pp. 17. Kasry, A. 1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas. Penerbit Bharata. Jakarta.

Saputra, K. 1999. Profil Transduksi Rangsang Titik Akupunktur Oryctolagus Cuniculus. Disertasi.

Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Saputra K, 2000. Akupunktur Dalam Pendekatan Ilmu Kedokteran. Airlangga Univercity Press. Surabaya.

Soim, A. 1994. Pembesaran Kepiting. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Anggota IKAPI