REPRODUKSI KRUSTASEA

Udang Vaname (Litopnaeus vannamei)

Nama     : RAHMAN PELU

Npm     : 051 709 021

Prodi     : BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)

Semester     : V (LIMA)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor perikanan merupakan salah satu sektor yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, dengan pertimbangan beberapa komoditas perikanan menjadi komoditas andalan ekspor sebagai sumber devisa negara, khususnya udang, tuna, dan rumput laut (KKP, 2010).

Usaha budidaya udang di Indonesia telah berkembang sejak lama dengan komoditas utama udang windu Penaeus monodon, yang berkembang sangat pesat dengan menerapkan tehnologi intensif sampai dekade 2000-an. Namun intensitas penggunaan lahan secara intensif yang terus-menerus menimbulkan penurunan kualitas lingkungan dan akibat selanjutnya adalah merebaknya penyakit WSSV yang dikarenakan oleh virus WSSV. Kondisi tersebut membuat banyak petambak mulai beralih ke budidaya udang vaname Liptopenaeus vannamei, yang merupakan udang impor dari luar negeri. Pemilihan udang vaname dikarenakan produktivitasnya tinggi, waktu pemeliharaan relatif singkat dan permintaan pasar akan komoditas ini terus meningkat (KKP 2009). Udang vaname memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat dipelihara dengan kepadatan tinggi, pertumbuhannya cepat, dan memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan penyakit dan pengaruh lingkungan (Soleh 2006).

Peningkatan produksi yang sangat tinggi dalam upaya memenuhi permintaan pasar ekspor, berdampak kepada meningkatnya permintaan benih udang, sehingga produksi benih udang harus dilakukan secara intensif. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi benih udang adalah dengan melakukan ablasi untuk mempercepat kematangan gonad. Ablasi adalah proses pemotongan tangkai mata udang yang terdapat organ X sebagai penghasil hormon perkembangan dan pematangan gonad (Gonade Inhibiting Hormone/GIH) serta penghambat pergantian kulit (Moulty Inhibiting Hormone/MIH). Jika organ X sudah tidak ada maka organ Y yang terletak di kepala dapat menghasilkan hormon perangsang pembentukan gonad (Gonade Stimulating Hormone/GSH) sehingga proses pematangan gonad dapat berlangsung cepat.

Saat ini teknik ablasi mata sudah umum digunakan di Indonesia, namun penggunaan teknik ini ditantang oleh kelompok pecinta binatang melalui isu animal welfare. Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya sebagai importir terbesar dunia telah menjadikan isu animal welfare sebagai persyaratan dalam perdagangan biota air (Cholik dkk 2005). Oleh karena itu, Indonesia sebagai salah satu negara eksportir udang perlu segera mengantisipasi isu tersebut melalui upaya perekayasaan anti ablasi mata yang dapat mempercepat kematangan gonad udang, namun tidak “menyakiti” induk udang yang digunakan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memberikan bahan kimia anti-dopamin yang berfungsi untuk menon-aktifkan organ X pada udang. Teknik ini diadopsi dari teknik pembenihan ikan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi Dan Morfologi Udang Vaname
Udang vaname digolongkan ke dalam famili Peneidae, genus Litopenaeus pada filum Anthropoda. Ada ribuan spesies di filum ini. Namun, yang mendominasi perairan berasal dari kelas Crustacea. Ciri-ciri kelas Crustacea yaitu memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk mencapit, terutama dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinensis, L. indicus, L. japonicus, L. monodon, L. stylirostris, dan Litopenaeus vannamei (Haliman dan Dian, 2005).

Penggolongan udang vaname menurut ilmu taksonomi adalah sebagai berikut (Wyban dan Sweeney 2000) :

Filum     :    Anthropoda

Kelas     :     Crustacea

Subkelas     :     Eumalacostraca

Ordo     :    Decapoda

Famili     :     Penaidae

Genus     :     Litopenaeus

Spesies     :     Litopnaeus vannamei

Gambar 1. Udang vaname (Litopenaeus vannamei)

Udang vaname merupakan organisme akuatik asli pantai pasifik meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Bagian tubuh udang vaname terdiri dari kepala yang bergabung dengan dada (chepalothorax) dan perut (abdomen). Kepala udang vaname terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan sepasang maxillae. Kepala udang vaname juga dilengkapi dengan 5 pasang kaki jalan (periopod) yang terdiri dari 2 pasang maxillae dan 3 pasang maxiliped. Perut udang vaname terdiri dar 6 ruas dan juga terdapat pasang kaki renang (pleopod) serta sepasang uropod (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson. Sifat udang vaname aktif pada kondisi gelap dan dapat hidup pada kisaran salinitas lebar dan suka memangsa sesama jenis (kanibal), tipe pemakan lambat tapi terus menerus (continous feeder) serta mencari makan lewat organ sensor. Spesies ini memiliki 6 stadia naupli, 3 stadia zoea, 3 stadia mysis dan stadia post larva dalam siklus hidupnya. Stadia post larva berkembang menjadi juvenil dan akhirnya menjadi dewasa (Haliman dan Dian, 2005)

Gambar 2. Morfologi udang vaname (Wyban dan Sweeney 2000)

Udang vaname memiliki nama umum pacific white shrimp, camaron blanco, dan longostino. Udang vaname juga mempunyai nama internasional yaitu whiteleg shrimp, crevette pattes blanches, dan camaron patiblanco (FAO, 2008)
Udang ini berwarna putih sehingga sering disebut udang putih dan bentuk tubuhnya bercorak agak kebiru-biruan, memiliki kromatophor dominan biru yang terpusat dekat dengan batas uropod dan telson (Haliman dan Dian, 2005).

Udang vaname dapat tumbuh sampai 230 mm/9 inchi. Udang vaname menyukai dasar yang berpasir dengan kedalaman sekitar 72 m dari permukaan laut (Haliman dan Dian, 2005). Spesies ini memiliki karapas yang bening sehingga warna pada ovary dapat terlihat. Pada betina gonad pertama berukuran kecil, berwarna coklat keemasan atau coklat kehijauan pada musim pemijahan (Wyban dan Sweeney 2000).

III. REPRODUKSI UDANG VANAME

3.1. Organ Reproduksi Udang Betina
Udang betina memiliki organ eksternal sistem reproduksi yang disebut telikum. Telikum berguna sebagai tempat untuk menampung sperma yang akan dilepaskan pada saat pemijahan. Telikum terletak antara pangkal kaki jalan ke-4 dan ke-5. Udang vaname memiliki telikum yang tidak tertutup oleh lempeng karapas yang keras atau biasa disebut telikum terbuka, sehingga proses perkawinannya tidak didahului oleh molting (Bailey-Brock dan Moss 1992).

Udang betina juga memiliki organ internal sistem reproduksi yang terdiri dari sepasang ovari. Ovari tersebut berbentuk tubular, simetrik bilateral, terletak di bagian ventral hingga rongga dada dan berkembang ke arah posterior hingga hepatopankreas. Cuping abdominal berdampingan dengan usus dan cuping anterior terdapat di cepalotorax. Cuping lateral berkembang menyamping seperti jari dan terletak antara cuping anterior dan posterior (Tarsim 2007). Oviduk berada diantara kedua sisi ovary dan memanjang hingga organ genital eksternal, yaitu pada koksapodit pasangan kaki jalan ke-3 (Bailey-Brock dan Moss 1992). Pada saat matang, ovary akan tampak berkembang dan memanjang hingga beberapa segmen abdominal.

3.2. Tingkat Kematangan Telur
Tingkat kematangan telur dapat diketahui dari perubahan warna pada ovarinya (kandungan telur), yang berada di bagian punggung udang mulai dari chepalotorax (karapas)
hingga ke telson (pangkal ekor). Ovari akan berkembang dari yang semula berwarna putih hingga berwarna merah kekuningan (orange) ketika matang gonad. Perubahan warna ovari pada udang vaname mudah diketahui, hal ini dikarenakan udang vaname merupakan salah satu jenis udang yang memiliki kulit tipis dan jernih.

Kematangan telur udang vaname dapat dibedakan dalam empat tingkatan yaitu :

    –    Tingkat 1    : Gonad tipis, transparan dan tidak terlihat melalui eksoskeleton dorsal (punggung kerangka luar).

    –    Tingkat 2    : Merupakan tingkat kematangan awal dengan terlihat adanya benang halus di bagian punggung udang.

    –    Tingkat 3    : Gonad tampak lebih tebal dan semakin jelas berwarna merah kekuningan (orange).

    –    Tingkat 4    : Tingkat kematangan gonad yang siap memijah ditandai dengan ovari yang berwarna merah kekuningan (orange) pada punggung udang dari chepalotorax hingga telson.

3.3. Sistem Endokrin Udang.
Hanstrom adalah orang pertama yang menemukan organ endokrin pada crustaceae yang disebut kelenjar sinus dan organ-X. Organ-X merupakan sumber penghasil bahan-bahan sekresi yang terdapat pada kelenjar sinus organ-X dan terdiri dari sekelompok sel syaraf penghasil hormon (Carlisle dan Passano 1953 dalam ismail 1991 ). Organ-X pada Brachyura terletak pada bagian dorsolateral tangkai mata, antena medula eksternal dan medula internal, sedangkan pada Natania organ-X berada didekat kulit luar dan biasanya dekat bagian distal dari medula terminalis (Welsh 1961 dalam Ismail 1991).
3.4. Peranan Hormon dalam Perkembangan Gonad Udang
    Reproduksi pada udang dikendalikan oleh berbagai hormon yang dihasilkan oleh tangkai mata, otak, ganglion toraks, ovari, dan diduga juga dipengaruhi oleh ekdisteroid (Charmantier 1997 dalam Tarsim 2007). Kecepatan perkembangan dan pematangan ovari akan dipengaruhi oleh aktifitas kerja hormon tersebut. Berikut adalah hormon-hormon yang berperan dalam perkembangan ovari udang :

  • Gonad Inhibiting Hormone (GIH)

    Gonad inhibiting hormone merupakan hormon yang hanya ada pada krustase. Pada Homarus americanus, GIH disintesis dalam sel neuroendokrin organ-X, tepatnya di dalam medula terminal yang berada di tangkai mata (De Kleijn et al 1998). Neuropeptida hasil sintesis ditransportasikan melalui axon ke kelenjar sinus untuk ditampung dan disekresikan (De Kleijn et al 1998). GIH mempunyai peranan dalam pematangan gonad baik jantan maupun betina, hal ini dikarenakan GIH merupakan hormin yang dapat menghambat perkembangan gonad. Sekresi GIH dikendalikan oleh methionin enkephalin (Met-Enk) dan dopamin.

  • Mandibular Organ Inhibiting Hormone (MOIH)

    Mandibular organ inhibiting hormone (MOIH) merupakan hormon yang disintesis dan disekresi oleh komplek kelenjar sinus organ-X pada tangkai mata (Tarsim 2007). MOIH berfungsi untuk menghambat proses sintesis methyl farnesoate olehorgan mandibular (Huberman 2000).

  • Gonad Stimulating Hormone (GSH)

    Gonad stimulating hormone (GSH) ditemukan pada otak dan thoracic ganglion. Implantasi thoracic ganglion pada Procambarus clarkia dapat menstimulasi perkembangan gonad (Sarojini et al. 1997 dalam Tarsim 2007). Fungsi dari GSH adalah menghambat awal pergantian kulit oleh organ-Y dan merangsang hormon androgen dalam pembentukan sperma dan memelihara pengeluaran telur pada individu betina (Ismail 1991).

  • Methyl Farnesoate (MF)

    Struktur MF mirip dengan juvenile hormone III pada serangga yang disintesis oleh mandibular organ (MO) (Chang 1997). Methyl farnesoate berperan dalam reproduksi krustase seperti gonadotropin dan juga berperan dalam morfogenesis. Berdasarkan uji secara in vitro pada betina Libina emarginata, tingkat produksi MF oleh mandibular organ tinggi saat perkembangan oosit dan oogenesis (Laufer et al. 1997). Implantasi MO pada juvenil betina berpengaruh terhadap perkembangan gonad. Analisis in vitro pada udang vaname menunjukkan bahwa MF menyebabkan peningkatan ukuran oosit secara signifikan. MF berpengaruh terhadap peningkatan fekunditas udang vaname, selain itu MF juga berperan merangsang organ-Y untuk mensintesis ecdysteroid (Laufer et al 1997)

  • Androgen Hormone (AH)

    Hormon androgen dihasilkan oleh kelenjar androgen yang terdapat hanya pada individu jantan. Kelenjar androgen mengeluarkan hormon yang berfungsi untuk menentukan kelamin, tingkah laku, perkembangan testes, saluran sperma, dan proses pembelahan normal spermatogenesis (Charniux-cotton 1962 dalam Ismail 1991).

  • Female Hormone (FH)

    Sumber dari FH kemungkinan di ovary, yang berfungsi untuk mengontrol perkembangan karakter seks betina kedua pada decapoda (Charniux-cotton 1962 dalam Ismail 1991). FH secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh GIH yang berperan penting pada decapoda, dimana GIH memerlukan tingkat optimum untuk menghasilkan FH dan juga diperlukan untuk menghasilkan AH. Fungsi FH adalah berperan penting didalam rangsangan oogensis.
    3.5. Teknik Percepatan Kematangan Gonad    

    Ablasi mata

    Teknik percepatan kematangan gonad yang paling sering digunakan di Indonesia adalah teknik ablasi mata. Manipulasi hormon dengan cara ablasi mata pada udang telah dimulai oleh Perkins pada tahun 1992 (Brown 1944 dalam Ismail 1991). Didalam tangkai mata terdapat suatu tempat yang memproduksi dan menyimpan hormone penghambat ovary yang mencegah tingkat kedewasaan dari ovary atau kandungan telur (primavera dan yap 1979 dalam ismail 1991). Tujuan ablasi mata adalah menghilangkan atau mengurangi hormon penghambat kematangan gonad. Ablasi mata dapat merangsang perkembangan telur pada krustase, akibat dihilangkannya kelenjar sinus (Hess 1941 dalam Nurdjana 1985).

    Ablasi mata dilakukan dengan cara memotong tangkai mata udang. Proses ablasi ini hanya dilakukan pada induk udang betina dengan menggunakan gunting yang dipanasi terlebih dahulu. Pemotongan tangkai mata dilakukan dengan hati-hati tidak boleh ada pemutusan tangkai secara paksa karena dapat merusak jaringan yang lain. Induk udang yang sudah diablasi akan pulih setelah 3-7 hari dan sudah siap untuk dipijahkan.
    Namun penggunaan teknik ablasi mata mulai ditentang oleh sebagian besar negara importir udang Indonesia. Hal ini terkait dengan isu animal welfare yang sedang marak.
    Antidopamin

    Penambahan hormon antidopamin dapat dijadikan sebagai teknik baru dalam percepatan kematangan gonad udang. Teknik ini diadopsi dari teknik percepatan kematangan gonad ikan. Antidopamin adalah bahan kimia yang dapat menghentikan kerja dopamin, sedangkan dopamin merupakan neurotransmitter yang berperan dalam menghambat pematangan gonad udang (Chen et al. 2003). Dopamin menghambat pematangan gonad dengan menstimulasi sekresi hormon penghambat perkembangan gonad (GIH) (Fingerman 1997). Anti dopamin yang terkandung dalam ovaprim berfungsi untuk memblok dopamin sehingga menstomilasi sekresi gonadotropin (Harker, 1992 dalam Prasetya,2002).Metode yang dilakukan adalah dengan mencampurkan antidopamin pada pakan, sehingga teknik perangsangan ini tidak menyakiti induk udang.

    DAFTAR PUSTAKA

    Bailey-Brock JH and Moss SM. 1992. Peneid taxonomy, biology, and zoogeography, p. 9-27. Didalam Fast A.W. and L.J. Lester. (Eds). Marine shrimp culture: principles and practices. Development in aquaculture and fisheries science, volume 23. Elsevier Science Publisher. B.V. Netherlands.

    Chang ES. 1997. Chemistry of crustaceans hormones that regulatu growth and reproduction. Didalam Fingerman M., R. Nagabhushanam., M. Thompson. Editors. Recent advances in marine biotechnology. Vol. 1. Endocrinology and reproduction. Science Publisher, Inc. USA

    Cholik F dkk. 2005. Akuakultur (tumpuan masa depan bangsa). Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar, TMII. Jakarta

    FAO. 2008. FAO Fisheries Technical Paper. Rome

    Fingerman M. 1997. Roles of neurotransmitters in regulating reproductive hormone release and gonadal maturation in decapods crustacean. Invertebrate Reproduction Development. 31 : 47-54

    Haliman RW dan Dian A. 2005. Udang vaname.Penebar Swadaya. Jakarta. 75 hal

    Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Prikanan.2009. Rencana Strategi Budidaya Udang. Jakarta

    Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Kementrian Kelautan dan Prikanan.2010. Rencana Strategi Budidaya Udang. Jakarta

    Laufer H, Takac P, Ahl JSB and Laufer MR. 1997. Methyl farnesoate and the effect of eyestalk ablation on the morphogenesis of the juvenile female spide carb Libinia emarginata. Invertebrate Reproduction Developmant. 31 : 63-68.

    Nurdjana ML. 1985. Pengaruh ablasi mata terhadap perkembangan telur dan embrio, serta kualitas larva udang windu (Penaeus monodon). Disertasi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 438 hal.

    Soleh M. 2006. Biologi Udang Vaname Liptopenaeus vaname. BBPBAP Jepara

Wyban JA and Sweeney JN. 2000. Intensive shrimp production technology. The Oceanic Institute. Honolulu, Hawai, USA. Hal. 13-14.