TERIPANG

BERBAGI ILMU

Oleh

RAHMAN PELU (EL NINO HITU)

051 709 021


 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

Teripang atau juga disebut suaal, merupakan salah satu jenis komoditi laut yang bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek yang baik dipasaran domestik maupun internasional. Budidaya teripang telah lama dilakukan oleh masyarakat kita khususnya di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara (Kolaka), Lampung dan Riau, benih yang dibudidayakan masih berasal dari alam. Dengan semakin banyaknya permintaan akan teripang, maka benih sebagai sumber produksi akan sulit dipenuhi dari alam serta penyediaannya tidak dapat kontinyu. Upaya dalam mengatasi penyediaan benih adalah dengan usaha memijahkan teripang sehingga kebutuhan akan benih dapat tercukupi. Pada tahun 1992 Balai Budidaya Laut Lampung telah berhasil melaksanakan pemijahan teripang putih (Holothuria scabra). Teripang terdiri dari 5 jenis teripang putih (Holothuria scabrai) merupakan jenis yang bernilai komersial.

Berbagai jenis hasil laut non ikan seperti teripang, lola, japing-japing, rumput laut, sango-sango dan kerang mutiara banyak terdapat perairan laut Sulawesi Tenggara. Hasil laut tersebut telah sejak lama diusahakan oleh nelayan yang bertempat tinggal di sepanjang pantai pulau-daerah ini, disamping usahanya menangkap ikan. Bilas musim penangkapan ikan sedang sulit, maka para nelayan tradisional melakukan pencarian, pengumpulan hasil laut non ikan apa saja yang dijumpai di sekitar mereka tinggal sebagai penghasilan tambahan.

Produksi laut non ikan ini pada tahun 1979 tercatat sebesar 491 ton yang diperdagangkan secara antar pulau. Kemudian pada tahun 1984 meningkat mejadi 1.396 ton. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh beberapa hal yaitu :

  1. Nelayan tradisional dengan peralatan penangkapan ikan yang sederhana menjadi tidak produktif lagi, sehingga banyak diantara mereka mengalihkan usahanya mencari hasil laut non ikan secara lebih intensif.
  2. Harga hasil laut non ikan cukup tinggi bila dibandingkan dengan ikan yang mampu diperolehnya dengan peralatan tradisionalnya, lagi pula dalam pengumpulan hasil laut tidak memerlukan peralatan yang mahal dan penanganan pasca panen yang serius.
  3. Usaha budidaya rumput laut dan teripang mulai berhasil.

Pengumpulan rumput laut, dilakukan oleh nelayan bila harganya cukup menarik bagi mereka, harga rumput laut (1985) hanya berkisar Rp 100,- s/d Rp 125,-/Kg. sedangkan harga lola dan japing-japing berkisar Rp 1.750,- s/d Rp 3.750,- Kg. dan harga teripang yang berkwalitas baik mencapai Rp 20.000,-/Kg.

Tertarik akan harga teripang yang baik, mulai awal tahun 1985 banyak nelayan yang melakukan pemeliharaan (pembesaran) teripang. A nak-anak teripang yang banyak terdampar di pantai-pantai dikumpulkan dan dipelihara disuatu daerah pemeliharaan yang telah disiapkan. Yaitu berupa perairan di pantai yang dipagar rapat yang luasnya bervariasi antara 200 s/d 800 m2. Pada saat nelayan dalam penyelaman mencari teripang dewasa memperoleh teripang-teripang yang masih muda tersebut dipelihara dibesarkan dalam kurungan. Nampaknya usaha pemeliharaan teripang ini mempunyai pengaruh positif dalam usaha meningkatkan pendapatan nelayan dan menjaga kelestarian potensi sumber khususnya teripang di sekitar perairan dimana nelayan bermukim.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Klasifikasi Teripang

Klasifikasi teripang :

Kingdom    : Animalia

Phylum        : Echinodermata

Class        : Holothuroidea

Genus         : Holothuria

Spesies        : Holothuria indica

b.Bagian tubuh teripang dan fungsinya

tentakel : berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat penagkap mangsa.

à Stomach/perut : sebagai alat pencernaan.

à Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin.

à Saluran kelamin : Berfungsi sebagai saluran menuju gonad.

à Madreporit : Lempeng tali lapisan pada ujung saluran air.

à Esofagus : saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan

à rongga mulut dan lambung. Dorsal mesentery : berfungsi sebagai pembungkus usus dan menggantungnya ke dinding tubuh pinggang.

à Anus : mengeluarkan sisa metabolisme pada teripang.

à Cloaca : sebagai alat pencernaan.

à Intestin : sebagai alat pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga usus.

c. Manfaat bagi kehidupan manusia teripang merupakan sumber makanan bagi mausia.

d. ciri-ciri:

• Bentuk tubuh menyerupai mentimun yang berkulit lunak.

• Tidak mempunyai lengan dan duri mereduksi menjadi spikula

• Daya regenerasi tinggi.

• Berwarna hitam coklat dan hijau.

• Dilengkapi alat pembelaan diri berupa zat perekat yang di hasilkan dari anullus.

• Mulut dan anus terletak pada ujung berlawanan.

• Mulut dikelilingi oleh tentakel

1.1. Persiapan lokasi

Pemilihan lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya. Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.

Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu. Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.

Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama.


Pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut.


1) Lokasi terlindung

Lokasi budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.

2) Kedalaman air

Kedalaman air di lokasi budi daya sebaiknya berkisar antara 0,5 – 1 m dihitung pada waktu surut terendah, sedangkan pada pasang tertinggi kedalaman perairan sebaiknya tidak lebih dari 2 m. Hal ini untuk menghindarkan teripang dari kekeringan atau kenaikan suhu air yang dapat mengganggu kehidupannya.

3) Dasar perairan

Dasar perairan sebaiknya landai, terdiri dari pasir dan pecahan-pecahan karang, berlumpur, dan banyak ditumbuhi ilalang laut/lamun serta rumput laut. Karang, ilalang laut, serta rumput laut ini selain berfungsi sebagai pelindung, juga berfungsi sebagai perangkap makanan untuk teripang.

4) Perairan jernih

Perairan harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.

5) Kualitas air

Lokasi budi daya yang dipilih sebaiknya mempunyai kisaran suhu air 24 – 30°C, kadar garam 28 – 32 ppt, pH air 6,5 – 8,5, oksigen terlarut 4 – 8 ppm, dan mempunyai gerakan air cukup (kecepatan arus 0,3 – 0,5 m/detik).

6) Ketersediaan benih

Benih merupakan salah satu faktor produksi yang cukup penting. Oleh karena itu, untuk menjamin kelangsungan budi daya teripang, harus tersedia benih yang cukup baik kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Lokasi budi daya sebaiknya dekat dengan sumber benih atau lokasi itu memiliki benih alami. Terdapatnya benih alami di lokasi itu merupakan petunjuk bahwa lokasi itu cocok untuk tempat budi daya. Di samping itu, kualitas benih akan terjaga tidak mengalami stress karena penanganan dan pengangkutan dan tidak perlu lagi biaya untuk pengangkutan.

7) Kemudahan

Lokasi budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.

Lokasi yang potensial untuk pengembangan budi daya teripang di negara kita sebenamya sangat luas. Akan tetapi, baru sebagian kecil saja yang diketahui, yaitu sekitar 2.500 ha, meliputi Lampung 200 ha, Jawa Timur 200 ha, Nusa Tenggara Barat 200 ha, Sulawesi Utara 500 ha, Sulawesi Tengah 300 ha, Sulawesi Tenggara 500 ha, Maluku 500 ha, dan Irian Jaya 100 ha (lihat Tabel 3). Daerah lain yang potensial antara lain Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Timor-Timor.

1.2. Alat dan Bahan]

Wadah penampungan

Penampungan teripang yang baru ditangkap dapat dilakukan dengan menggunakan perahu atau juga tong plastik maupunwadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi sekaligus dapat langsung digunakan untuk wadah selama transportasi.

Wadah pencucian

Wadah pencucian dapat berupa drum yang terbuat dari aluminium, plastik ataupun fibreglass dan tidak dianjurkan menggunakan wadah yang terbuat dari bahan yang mudah berkarat, seperti seng.

Pisau pembelah

Pisau pembelah harus tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat (sebaiknya stainless steel), kuat dan tajam dengan bagian ujung yang runcing.

Wadah perebusan

Wadah perebusan harus terbuat dari aluminium atau stainless steel dengan ukuran yang disesuaikan kapasitas pengolahan.

Alat pengasapan

Alat pengasapan dapat berupa alat pengasap terbuka, drum pengasap, lemari pengasapan ataupun rumah pengasapan. Alat pengasapan terbuka tidak dianjurkan mengingat alat ini sulit dalam pengontrolan suhu, dapat terkontaminasi kotoran dari luar dan pemakaian asap tidak efisien (banyak terbuang).

Alat pengeringa

Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari diatas para-para dengan ketinggian=l meter, atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer)

1.3. Penyediaan Benih

    
Benih teripang dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu benih alami yang dikumpulkan dari alam dan benih hasil pembenihan buatan di hatchery (panti benih).

1. Benih alami

Benih alami biasanya banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar lumpur berpasir dan banyak ditumbuhi tumbuhan laut, seperti ilalang laut dan rumput laut. Benih alami ini mempunyai ciri sebagai berikut.

- Bentuk badan bulat panjang dengan bagian perut merata serta bersekat-sekat melintang berwarna putih.

- Di antara sekat-sekat tubuh di bagian punggung terdapat garis-garis hitam.

- Kulit tubuh tebal dan kasar. Jika diraba, terasa kasar seperti ada butiran pasir.

Benih alami. Banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar Lumpur berpasir dan ditumbuhi tumbuhan laut. Benih dari alam ini bisa diambil langsung dengan tangan pada saat air laut surut. Pekerjaan ini biasa dilakukan oleh nelayan pada waktu malam hari dengan penerangan obor atau lampu petromaks. Pada malam hari terutama saat air surut, benih teripang cenderung berada di permukaan pasir sehingga mudah diambil. Nelayan biasanya menampung benih tersebut dalam wadah yang berisi air laut. Atau, sering kali hanya diletakkan di dalam perahu yang mereka tumpangi dan diberi air laut. Selanjutnya, benih dibawa ke tempat pembesaran. Adakalanya pengambilan benih dilakukan pada siang hari dengan cara menyelam. Pekerjaan ini relatif lebih sulit jika dibanding pada malam hari karena pada siang hari teripang lebih suka berlindung di bawah batu karang atau membenamkan diri di bawah pasir sehingga agak sulit dilihat. Di samping itu, untuk menghindari panas di siang hari, teripang cenderung memilih perairan yang lebih dalam dengan gelombang yang tidak terlalu besar dan lokasi cukup terlindung, misalnya di laguna dan teluk. Benih yang diambil dari alam berukuran sekitar 10 cm. Ukuran sebesar ini pada umumnya bisa langsung dibesarkan pada kurungan pemeliharaan

Usaha pencarian benih teripang dilakukan dengan jalan menyelam di laut pada kedalaman 2 meter sampai 5 meter. Biasanya benih teripang diperoleh bersama pada saat nelayan mencari teripang yang dewasa untuk diolah. Teripang yang masih muda dibesarkan lebih dulu dan yang telah dewasa dapat langsung diproses untuk diolah lebih lanjut. Di beberapa tempat tertentu biasa dijumpai benih teripang yang hanyut terhempas ombak di tepi pantai. Pada umumnya teripang nampaknya tidak tahan terhadap suhu yang lebih tinggi di pantai, maka pencarian benih dilakukan pada malam hari pada saat anak-anak teripang dalam tidak bergerak seperti benda mati saja. Tetapi bagi para nelayan pengumpul teripang yang telah mengetahui kebiasaan hidup teripang, pada siang hari pun dapat juga dikenali tempat-tempat dimana teripang bersembunyi. Pada umumnya mulut teripang tetap menghadap kearah permukaan dasar laut, sehingga bila diperhatikan terdapat lubang kecil yang persis dimulut teripang.

1.4. Pembesaran

    Setelah siap di lahan permbesaran, teripang siap ditebarkan di lahan pembesaran. Dalam tahap ini, terdapat beberapa faktor yang perlu dipperhatikan untuk meningkatkan produktivitas teripang, yaitu padat penebaran benih, pemberian pakan, dan pengendalian hama penyakit. Setelah melaluit tahapan di atas, teripang siap untuk dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pada saat air surut sebelum teripang membenamkan diri ke dalam pasir. Hasil panen harus segera di bawa ke tempat pengolahan karena teripang merupakan produk laut yang cepat membusuk.

 

1.5. Panen

    Lama pemeliharaan teripang tergantung pada jenis, ukuran, waktu penebaran benih, pertumbuhan, dan ukuran teripang yang dikehendaki pasar. Teripang pasir umumnya dipanen setelah mencapai berat basah 200 – 250 g atau panjang 15 – 20 cm, karena ukuran tersebut yang paling banyak diminta konsumen. Untuk mencapai ukuran itu, diperlukan waktu pemeliharaan antara 5 – 6 bulan dari benih awal dengari berat 30 – 40 g atau panjang 5 – 7 cm. Pemanenan teripang sebaiknya dilakukan pada waktu air surut, yaitu pada pagi hari sebelum teripang membenamkan diri ke pasir. Panen dapat dilakukan dengan memungut langsung teripang yang sudah berukuran besar dan memenuhi ukuran konsumsi. Hasil panen ditampung dalam wadah, seperti tong plastik atau ember. Pada waktu pemanenan diusahakan tubuh teripang jangan sampai terluka, karena akan mempengaruhi harga jualnya nanti. Hasil panen segera dibawa ke tempat pengolahan, karena teripang merupakan salah satu hasil perikanan yang cepat busuk. Dari satu unit kurungan pagar ukuran 400 m2 (20 m x 20 m) dapat dipanen antara 640 – 960 kg dengan persentase teripang hidup sekitar 80 %. Teripang ukuran panen. Berat basah antara 200 – 500 g.

Pemungutan hasil panen dapat dilakukan setelah ukuran teripang berkisar antara 4 sampai 6 ekor per kg (market size). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6 – 7 bulan, dengan survival yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara bertahap yaitu dengan memilih teripang yang berukuran besar atau juga dapat dilakukan secara total, kemudian dilakukan seleksi menurut golongan ukuran.

Posted on 31 Desember 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 553 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: