Arsip Harian: 31 Desember 2011

SEL PROKARIOTIK DAN SEL EUKARIOTIK

BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

PERBEDAAN SEL PROKARIOTIK DAN EUKARIOTIK

Bagian terkecil dari makhluk hidup berupa sel. Sekelompok sel yang bentuk dan fungsinya sama membentuk jaringan. Beberapa macam jaringan yang bekerja sama membentuk suatu organ atau alat tubuh. Sedangkan beberapa macam organ akan terangkai dan membentuk suatu sistem organ.

Struktur Dan Fungsi Bagian – Bagian Sel Prokariotik Dan Sel Eukariotik

Kita ketahui bahwa sel memiliki struktur yang dibagi menjadi dua yaitu struktur sel prokariotik dan sel eukariotik. Setiap organisme tersusun dari salah satu sel prokariotik dan sel eukariotik. Kedua sel ini memiliki perbedaan berdasarkan inti selnya.

Adapun penejelasan struktur sel prokariotik dan struktur sel eukariotik adalah sebagai berikut :

1. Struktur Sel Prokariotik

Sel prokariotik adalah sel yang tidak memiliki selaput inti. Maka materi genetik sel prokariotik tidak dibungkus oleh selaput. Kebanyakan sel prokariotik adalah uniseluler, walaupun ada pula beberapa yang multiseluler. Sel prokariotik uniseluler ini mampu membentuk koloni.

Semua sel prokariotik mempunyai membran sel plasma, neklueoid berupa DNA dan RNA, serta sitoplasma yang mengandung ribosom. Sel prokariotik tidak memiliki membran inti, sehingga bahan inti yang berada dalam sel mengadakan kontak langsung dengan protoplasma. Sel prokariotik juga tidak memiliki sistem endomembran (membran dalam), seperti retikulum endoplasma dan kompleks Golgi. Selain itu, sel prokariotik juga tidak memiliki mitokondria dan kloroplas, tetapi mempunyai struktur yang berfungsi sama dengan keduanya, yaitu mesosom dan kromator. Contoh sel prokariotik adalah bakteri (Bacteria) dan Sianobakteri (Cyanobacteria). Adapun bagian-bagian sel bakteri dan fungsinya adalah sebagai berikut:

1). Dinding Sel yang tersusun dari atas peptidoglikan, lipid dan protein. Dinding sel berfungsi sebagai pelindung dan memberi bentuk yang tetap. Pada dinding sel terdapat pori-pori sebagai jalan keluar masuknya molekul-molekul.

2). Membran Plasma yang tersusun atas molekul lipid dan protein dan berfungsi sebagai pelindung molekuler sel terhadap lingkungan di sekirnya, dengan jalan mengatur lalu lintas molekul dan ion-ion dari dalam

3). Sitoplasma yang tersusun dari air, protein, lipid, mineral dan enzim yang berfungsi untuk mencerna makanan secara ekstraselular untuk melakukan metabolisme sel.

4). Mesosom yaitu membran plasma yang melekuk ke dalam membentuk bangunan. Fungsinya sebagai pengahasil energi.

5). Ribosom merupakan tempat berlangsungnya sintesis protein

6). DNA (Asam Deoksiribonukleat), berfungsi sebagai pembawa informasi genteika, yaitu sifat-sifat yang harus diwariskan kepada keturunannya.

7). RNA (Asam Ribonukleat), RNA berfungsi membawa kode-kode gentika sesuai pesanan DNA.

Ternyata sel prokariotik terdiri atau tersusun dari berbagai bagian. Setiap bagian bagian sel memiliki fungsi yang berbeda. Tetapi seluruh bagian tersebut harus bekerja sama membentuk satu kesatuaan.

“Setiap bagian sel ini mempunyai peranan yang penting bagi kelangsungan hidup  sebuah sel, Namun bagian-bagian sel itu tidak dapat berdiri sendiri dalam menjalankan fungsi sel, melainkan membentuk satu kesatuan” (Purnomo, Sudjino, Sembiring dan Trijoko (2006:9)).

2.Sel Eukariotik

Sel eukariotik adalah sel yang memiliki selaput inti. Maka, materi genetiknya tidak tersebar melainkan dibungkus selaput. Jenis-jenis sel eukariotik meliputi: sel protista, sel hewan, sel tumbuhan, dan sel fungi. Adapun bagian-bagian dari sel eukariotik adalah sebagai berikut :

1). Membran Sel (selaput Plasma) yaitu selaput selektif permeabel, artinya hanya dapat dilaui molekul-molekul tertentu, seperti glukosa, asam amino. Gliserol dan berbagai ion.

2). Sitoplasma adalah materi yang mengisi antara inti dan selaput plasma.

3). Sitoskleton atau rangka sel tersusun atas tiga jenis serabut yaitu mikrofilamen, mikrotubulus dan filamen intermediar.

4). Nukleus merupakan organel terbesar di dalam sel yang berperan penting pada sel sebagai pengendali kegiatan sel.

5). Retikulum Endoplasma merupakan organl yang tersusunoleh membran yang terbentuk seperti jala dan berfungsi sebagai saluran penghubung antara nukleus dengan bagian luar sel.

6). Ribosom yaitu bagian terkecil dari sel dan berfungsi sebagai tempat sintesis potein.

7). Kompleks golgi yaitu mempunyai hubungan erat dalam sekresi protei sel.

8). Lisosom merupakan membran kantong kecil yang berisi enzim hidrolitik (lisozom).

9). Badan Mikro yaitu berisi enzim katalase.

10). Mitokondria berfungsi dalam oksidasi makanan, respirasi sel, dehidrogenasi, fosforilasi oksidatif dan sistem elektron.

11). Kloroplas berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.

Perbedaan Sel Prokariotik Dan Sel Eukaritok

Perbedaan sel prokariotik dan sel eukariotik terletak pada inti selnya. Sel prokariotik adalah sel yang tidak memiliki selaput inti. Sedangkan sel eukariotik adalah sel yang memiliki selaput inti. Adapun perbedaan lainnya adalah sebagai berikut :

No

Organel

Prokariotik

Eukariotik

1

Membran Plasma

Ada

2

Sitoplasma

Ada

Ada

3

Ribosom

Ada

Ada

4

Dinding Sel

Ada

5

Mesosom

Ada

6

Nukleus

Ada

7

Retikulum Endoplasma

Ada

8

Sentriol

Ada

9

Lisosom

Ada

10

Kompleks Golgi

Ada

11

Mitokondria

Ada

12

Badan Mikro

Ada

PERBEDAAN SEL TUMBUHAN, SEL HEWAN, SEL BAKTERI

Sel Tumbuhan

Sel Hewan

Sel Bakteri

Sel Tumbuhan Lebih Besar

Sel Hewan Lebih Kecil

Sel Bakteri Sangat Kecil

Mempunyai Bentuk Tetap

Tidak Mempunyai Bentuk Tetap

Mempunyai Bentuk Tetap

Tidak Mempunyai Sentrosom

Mempunyai Sentrosom

Tidak Mempunyai Sentrosom

Mempunyai Dinding Sel dari Selulosa

Tidak Mempunyai Dinding Sel

Tidak Mempunyai Dinding Sel

Mempunyai Plastisida

Tidak Punya Plastisida

Tidak Punya Plastisida

Punya Vakuola

Tidak Punya Vakuola

Tidak Punya Vakuola

Menyimpan Tenaga Dalam Bentuk Butiran Pati

Menyimpan Tenaga Dalam Bentuk Butiran Slikosen

-

Tidak Punya Lisosom

Mempunyai Lisosom

-

Nukleolus Lebih Kecil Daripada Vakuola

Nukleolus Lebih Besar Daripada Vakuola

Tidak Punya Nukleolus

Sel tumbuhan dan sel bakteri memiliki lapisan di luar membran yang dikenal sebagai dinding sel. Dinding sel bersifat tidak elastis dan membatasi perubahan ukuran sel. Keberadaan dinding sel juga menyebabkan terbentuknya ruang antarsel, yang pada tumbuhan menjadi bagian penting dari transportasi hara dan mineral di dalam tubuh tumbuhan.

Sel tumbuhan, sel hewan, dan sel bakteri mempunyai beberapa perbedaan seperti berikut:

Sel tumbuhan

Sel hewan

Sel bakteri

Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan. Sel hewan lebih kecil daripada sel tumbuhan. Sel bakteri sangat kecil.
Mempunyai bentuk yang tetap. Tidak mempunyai bentuk yang tetap. Mempunyai bentuk yang tetap.
Mempunyai dinding sel [cell wall] dari selulosa. Tidak mempunyai dinding sel [cell wall]. Mempunyai dinding sel [cell wall] dari lipoprotein.
Mempunyai plastida. Tidak mempunyai plastida. Tidak mempunyai plastida.
Mempunyai vakuola [vacuole] atau rongga sel yang besar. Tidak mempunyai vakuola [vacuole], walaupun kadang-kadang sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola (tapi tidak sebesar yang dimiliki tumbuhan). Yang biasa dimiliki hewan adalah vesikel atau [vesicle]. Tidak mempunyai vakuola.
Menyimpan tenaga dalam bentuk butiran (granul) pati. Menyimpan tenaga dalam bentuk butiran (granul) glikogen. -
Tidak Mempunyai sentrosom [centrosome]. Mempunyai sentrosom [centrosome]. Tidak Mempunyai sentrosom [centrosome].
Tidak memiliki lisosom [lysosome]. Memiliki lisosom [lysosome].
Nukleus lebih kecil daripada vakuola. Nukleus lebih besar daripada vesikel. Tidak memiliki nukleus dalam arti sebenarnya.

PERBEDAAN DNA DAN RNA

Perbedaan DNA dan RNA
DNA singkatan dari Deoxyribo Nucleic Acid, yaitu suatu molekul yang terdapat dalam perbedaan DNA dan RNA DNA sel semua makhluk hidup. Setiap makhluk hidup mulai dari bakteri sampai manusia memiliki DNA. Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme. Di antara perkecualian yang menonjol adalah beberapa jenis virus (dan virus tidak termasuk organisme) seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus). Pada dasarnya, DNA merupakan cetak biru kehidupan. Ia mengandung perintah-perintah yang memberitahu sel bagaimana harus bertindak. Ia juga menentukan bagaimana sifat organisme diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
Struktur.

DNA

DNA merupakan polimer yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu gugus fosfat, gula deoksiribosa, dan basa nitrogen. Sebuah unit monomer DNA yang terdiri dari ketiga komponen tersebut dinamakan nukleotida, sehingga DNA tergolong sebagai polinukleotida.

Rantai DNA memiliki lebar 22-24, sementara panjang satu unit nukleotida 3,3. Walaupun unit monomer ini sangatlah kecil, DNA dapat memiliki jutaan nukleotida yang terangkai seperti rantai. Misalnya, kromosom terbesar pada manusia terdiri atas 220 juta nukleotida.

Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus fosfat dan gula yang berselang-seling. Gula pada DNA adalah gula pentosa (berkarbon lima), yaitu 2-deoksiribosa. Dua gugus gula terhubung dengan fosfat melalui ikatan fosfodiester antara atom karbon ketiga pada cincin satu gula dan atom karbon kelima pada gula lainnya. Salah satu perbedaan utama DNA dan RNA adalah gula penyusunnya; gula RNA adalah ribosa.

DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur heliks ganda. Pada struktur heliks ganda, orientasi rantai nukleotida pada satu untai berlawanan dengan orientasi nukleotida untai lainnya. Hal ini disebut sebagai antiparalel. Masing-masing untai terdiri dari rangka utama, sebagai struktur utama, dan basa nitrogen, yang berinteraksi dengan untai DNA satunya pada heliks. Kedua untai pada heliks ganda DNA disatukan oleh ikatan hidrogen antara basa-basa yang terdapat pada kedua untai tersebut. Empat basa yang ditemukan pada DNA adalah adenin (dilambangkan A), sitosin (C, dari cytosine), guanin (G), dan timin (T). Adenin berikatan hidrogen dengan timin, sedangkan guanin berikatan dengan sitosin.

RNA

Asam ribonukleat (RNA) adalah penting jenis molekul biologis yang terdiri dari rantai panjang unit nukleotida. Setiap nukleotida terdiri dari basa nitrogen, gula ribosa, dan fosfat.
RNA comes in a variety of different shapes. Double-stranded DNA is a staircase-like molecule.
RNA hadir dalam berbagai bentuk yang berbeda. Double-stranded DNA adalah sebuah molekul seperti tangga. Gambar Kredit: Institut Nasional Ilmu Kedokteran Umum

RNA sangat mirip dengan DNA, tetapi berbeda dalam beberapa rincian struktural penting: dalam sel, RNA biasanya beruntai tunggal, sedangkan DNA biasanya double-stranded; RNA nukleotida mengandung ribosa sedangkan DNA mengandung deoksiribosa (sejenis ribosa yang tidak memiliki satu atom oksigen), dan RNA memiliki dasar daripada urasil timin yang hadir dalam DNA.

Ribonucleic acid (RNA) has the bases adenine (A), cytosine (C), guanine (G), and uracil (U). Asam ribonukleat (RNA) memiliki basis adenin (A), sitosin (C), guanin (G), dan urasil (U). Gambar Kredit: Institut Nasional Ilmu Kedokteran Umum

RNA ditranskripsi dari DNA dengan enzim yang disebut RNA polimerase dan umumnya diproses lebih lanjut oleh enzim lainnya. RNA merupakan pusat sintesis protein. Di sini, jenis RNA disebut RNA membawa informasi dari DNA untuk struktur yang disebut ribosom. Ribosom ini dibuat dari protein dan RNA ribosom, yang datang bersama untuk membentuk sebuah mesin molekuler yang dapat membaca RNA messenger dan menerjemahkan informasi yang mereka bawa menjadi protein. Ada banyak RNA dengan peran lainnya – dalam mengatur gen tertentu yang disajikan, tetapi juga sebagai genom virus yang paling.

RNA dan DNA keduanya asam nukleat, tetapi berbeda dalam tiga cara utama. Pertama, tidak seperti DNA yang beruntai ganda, RNA merupakan molekul-tunggal terdampar di sebagian besar peran biologis dan memiliki rantai lebih pendek dari nukleotida. Kedua, sementara DNA berisi””deoksiribosa, RNA berisi””ribosa (tidak ada gugus hidroksil yang melekat pada cincin pentosa pada posisi 2 ‘dalam DNA). Kelompok-kelompok hidroksil membuat RNA kurang stabil dari DNA karena lebih rentan terhadap hidrolisis. Ketiga, basis pelengkap untuk adenin tidak timin, karena dalam DNA, melainkan urasil, yang merupakan bentuk unmethylated dari timin. Sebagai contoh, penentuan struktur enzim-ribosom yang dapat mengkatalisis pembentukan ikatan peptida-mengungkapkan bahwa situs aktif seluruhnya terdiri dari RNA.

Macam-macam RNA

RNA dapat dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu RNA genetik dan RNA non-genetik.

  1. RNA genetik

RNA genetik memiliki fungsi yang sama dengan DNA, yaitu sebagai pembawa keterangan genetik. RNA genetik hanya ditemukan pada makhluk hidup tertentu yang tidak memiliki DNA, misalnya virus. Dalam hal ini fungsi RNA menjadi sama dengan DNA, baik sebagai materi genetik maupun dalam mengatur aktivitas sel.

  1. RNA non-genetik

RNA non-genetik tidak berperan sebagai pembawa keterangan genetik sehingga RNA jenis ini hanya dimiliki oleh makhluk hidup yang juga memiliki DNA. Berdasarkan letak dan fungsinya, RNA non-genetik dibedakan menjadi mRNA, tRNA, dan rRNA.

1)   mRNA (messenger RNA) atau ARNd (ARN duta)

mRNA merupakan RNA yang urutan basanya komplementer (berpasangan) dengan salah satu urutan basa rantai DNA. RNA jenis ini merupakan polinukleotida berbentuk pita tunggal linier dan disintesis oleh DNA di dalam nukleus. Panjang pendeknya mRNA berhubungan dengan panjang pendeknya rantai polipeptida yang akan disusun. Urutan asam amino yang menyusun rantai polipeptida itu sesuai dengan urutan kodon yang terdapat di dalam molekul mRNA yang bersangkutan. mRNA bertindak sebagai pola cetakan pembentuk polipeptida. Adapun fungsi utama mRNA adalah membawa kode-kode genetik dari DNA di inti sel menuju ke ribosom di sitoplasma. mRNA ini dibentuk bila diperlukan dan jika tugasnya selesai, maka akan dihancurkan dalam plasma.

2)   tRNA (transfer RNA) atau ARNt (ARN transfer)

RNA jenis ini dibentuk di dalam nukleus, tetapi menempatkan diri di dalam sitoplasma. tRNA merupakan RNA terpendek dan bertindak sebagai penerjemah kodon dari mRNA. Fungsi lain tRNA adalah mengikat asam-asam amino di dalam sitoplasma yang akan disusun menjadi protein dan mengangkutnya ke ribosom. Bagian tRNA yang berhubungan dengan kodon dinamakan antikodon.

3)   rRNA (ribosomal RNA) atau ARNr (ARN ribosomal)

RNA ini disebut ribosomal RNA karena terdapat di ribosom meskipun dibuat di dalam nukleus. RNA ini berupa pita tunggal, tidak bercabang, dan fleksibel. Lebih dari 80% RNA merupakan rRNA. Fungsi dari RNA ribosom adalah sebagai mesin perakit dalam sintesis protein yang bergerak ke satu arah sepanjang mRNA. Di dalam ribosom, molekul rRNA ini mencapai 30-46%.

Dengan adanya penjelasan materi di atas, terdapat perbedaan antara DNA dan RNA.

Tabel . Perbedaan DNA dan RNA

DNA (Deoxyribo Nukleat Acid)

RNA (Ribo Nukleat Acid)

-    Letak

Dalam inti sel, mitokondria, kloroplas, senriol.

Dalam inti sel, sitoplasma dan ribosom.

-    Bentuk

Polinukleotida ganda yang terpilin panjang

Polinukleotida tunggal dan pendekl

-    Gula

Deoxyribosa

Ribosa

-    Basanya

Golongan purin : adenine dan guanine

Golongan pirimidin : cytosine dan timin

Golongan purin : adenine dan guanine

Golongan pirimidin : cytosine dan urasil

-    Fungsi

-          mengontrol sifat yang menurun

-          sintesis protein

-          sintesis RNA

-       sintesis protein

-    Kadarnya

Tidak dipengaruhi sintesis protein.

Letak basa nitrogen dari kedua pita ADN saling berhadapan dengan pasangan yang tetap yaitu Adenin selalu berpasangan dengan Timin, Cytosin dengan Guanin. Kedua pita itu diikatkan oleh ikatan hidrogen.

Dipengaruhi sintesis protein.

Macam ARN :

ARN duta

ARN ribosom

ARN transfer


JENIS-JENIS PARASIT YANG BIASA MENYERANG IKAN KERAPU BEBEK

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)

 


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

Jenis-jenis Parasit yang terserang pada ikan kerapu bebek

Jenis parasit yang sering menyerang ikan kerapu pada tingkat pendederan adalah sejenis kutu ikan golongan crustacea, cacing pipih golongan trematoda, protozoa dan tricodina.

  • Kutu Ikan

Parasit sejenis kutu, bentuknya seperti Argulus yang merupakan golongan Crustacea, banyak menyerang pada pendederan kerapu.   Parasit ini berbentuk pipih seperti kutu, berukuran 2–3 mm, menempel pada permukaan tubuh ikan terutama pada bagian kulit dan sirip. Serangan dalam jumlah besar akan mengakibatkan kematian, karena parasit ini menghisap darah ikan dan mengakibatkan tubuh mangsanya berlubang, sehingga ikan mudah terkena infeksi sekunder yaitu jamur dan bakteri.

Gejala yang diperlihatkan adalah : ikan berenang lamban, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna merah pucat, terdapat luka pada bagian tubuh ikan dan sering menggesek-gesekkan tubuhnya ke sisi jaring/bak atau berenang miring seolah-olah ikan merasa gatal.  Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan parasit ini adalah dengan memisahkan ikan yang terserang dari ikan yang sehat, agar  tidak tertulari.  Sedikitnya dua minggu sekali ikan direndam dalam air tawar selama 10–15 menit.  Pada waktu perendaman, parasit yang menempel akan lepas dan mati. Parasit yang mati akan terlihat jelas yaitu berwarna putih transparan. Pengobatan ikan yang baru terserang parasit ini cukup dengan cara perendaman tersebut. Biasanya ikan sembuh setelah 2–3 hari kemudian. Jika ikan telah mengalami luka-luka dapat dilakukan perendaman dalam air tawar, kemudian dilanjutkan dengan perendaman didalam larutan acriflavin 10 ppm/jam. (Kurniastuty, dkk 2004)

  • Cacing Pipih

Jenis cacing pipih yang biasanya menyerang adalah Diplectanum sp. yang merupakan golongan Trematoda. Gejala yang diperlihatkan adalah : nafsu makan berkurang, warna pucat baik pada tubuh maupun insang, produksi lendir tinggi, ikan berenang di permukaan air serta megap-megap dengan tutup insang terbuka dan sering menggosok-gosokkan tubuh ke bak pemeliharaan. Umumnya serangan parasit ini sering bersamaan dengan penyakit vibriosis. Untuk menanggulangi serangan cacing jenis ini dapat dilakukan perendaman dengan air tawar selama 15 menit kemudian untuk mengantisipasi adanya infeksi sekunder direndam acriflavin 10 ppm selama 1 jam.  Biasanya ikan akan sembuh setelah 4–6 hari perawatan.

  • Protozoa

Jenis protozoa yang biasa menyerang adalah Cryptocarion irritans. Penyakit yang ditimbulkannya disebut Cryptocarioniasis. Gejala yang diperlihatkan    adalah : terdapat bintik putih yang terlihat berbentuk titik yang cukup dalam, terdapat luka yang tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam, pendarahan ini kemungkinan disebabkan karena ikan menggesek-gesekkan tubuhnya ke bak yang diakibatkan oleh rasa gatal dibagian kulit yang terserang. Ikan yang terserang akan kehilangan nafsu makan, mata membengkak, sisik-sisiknya lepas dan kadang terjadi pendarahan pada kulitnya dan terjadi pembusukan pada bagian sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.

Untuk menanggulangi serangan tersebut dapat dilakukan dengan cara perendaman baik menggunakan air tawar selama 15 menit atau methylene blue 0,1 ppm selama 30 menit. Perendaman dapat diulang sebanyak 2–3 kali. Sedangkan terhadap infeksi sekunder seperti pembusukan sirip dapat dicegah dengan menggunakan acriflavin 10 ppm/jam. Tindakan yang perlu dilakukan agar penyakit ini tidak menyebar adalah dengan cara mengisolasi ikan yang sakit sejauh mungkin dari ikan yang sehat. Ikan-ikan yang mati atau sakitnya parah harus segera diambil dan dimusnahkan. Selain itu pengobatan harus dilakukan sedini mungkin begitu terlihat tanda-tanda ada ikan yang sakit.

  • Tricodina

Penyakit yang disebabkan oleh Tricodina sp. disebut tricodiniasis.  Gejala dan penanggulangannya hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh Cryptocarion irritans, tetapi jarang terjadi kerusakan pada kulit.

  • Monogenia

Monogonia merupakan parasit sejenis kutu ikan dari golongan Crustacea. Parasit ini menyerang dengan cara menempel di permukaan tunuh ikan kerapu, terutama bahagian kulit dan sirip. Parasit ini dapat menyebabkan kematian pada ikan, karena parasit ini mengisap darah ikan (inangnya). Serangan parasit ini dapat menimbulkan luka pda tubuh ikan, ikan berenang lambat dan cenderung memisahkan diri dari kelompoknya, nafsu makan menurun, sisik mudah lepas, insang berwarna merah pucat, dan tubuhnya sering digesek-gesekan ke waring/jarring atau berenang miring seola-olah merasa gatal.

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara merendam ikan yang sakit dalam larutan formalin 100 ppm selama 1 jam dengan aerasi yang kuat. Kalau ikan telah mengalami luka sebaiknya direndam dalam larutan acriflavin 5 ~ 10 ppm selama 1 ~ 2 jam.

  • Trematoda

Trematoda merupakan cacing pipih Diplectinum sp yang banyak menyerang ikan kerapu. Parasit ini menyerang insang, hati dan mata. Adapun gejalanya adalah : nafsu makan berkurang, warna tubuh dan insang pucat, produksi lendir dipermukaan tubuh banyak, ikan selalu berenang di bahagian permukaan air dengan kondisi megap=megap dengan tutup insang terbuka.

Penyakit ini dapat diobati dengan merendam ikan yang sakit dengan larutan formalin 100 ~ 150 ppm selama 15 ~ 30 menit, dan diulangi selama tiga hari berturut. Kalau ikan telah mengalami luka sebaiknya direndam dalam larutan acriflavin 5 ~ 10 ppm selama 1 ~ 2 jam. Setelah itu diberi Combatrin dengan dosis 1 botol combatrin (10 ml) untuk 5 kg pakan.

  • Cryptocaryon

Penyakit ini disebabkan oleh serangan protozoa Cryptocaryon sp, yang lebih dikenal dengan nama penyakit bintik putih. Bagaian tubuh yang diserang adalah permukaan tubuh, ekor, insang dan mata. Gejala dari penyakit ini adalah mata ikan kerapu membengkak, insang dan mata ditumbuhi semacam kista sebesar kepala jarum pentul dan berwarna putih terjadi pendarahan pada bagaian sirip, produksi lendir tubuh meningkat, dan nafsu makan ikan hilang.

Penyakit ini dapat diobati dengan merendam ikan dengan air laut yang telah diberi formalin dengan dosis 100 ~ 150 ppm selama 15 ~ 30 menit, dan diulangi selama tiga hari berturut. Kalau ikan telah mengalami luka sebaiknya direndam dalam larutan acriflavin 5 ~ 10 ppm selama 1 ~ 2 jam.

  • Tricodiniasis

Penyakit ini disebabkan oleh serangan protozoa Tricodina sp. Protozoa ini akan banyak menenpel pada insang, permukaan tubuh dan sirip ikan kerapu. Gejala yang timbul akibat dari serangan protozoa ini adalah produksi lendir meningkat, nafsu makan hilang, terdapat peradangan pada kuliar luar, dan berenang tidak normal. Pada serangan yang sudah parah dapat menyebabkan siripnya sobek-sobek.

Penyakit ini dapat diobati dengan merendam ikan yang sakit dalam air laut yang telah diberi formalin dengan dosis 100 ppm selama 1 jam. Sedangkan untuk ikan yang telah mengalami luka sebaiknya direndam dalam larutan larutan acriflavin 5 ~ 10 ppm selama 1 ~ 2 jam.


Diproteksi: Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

ORGANISME PERAIRAN

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)

 


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

  1. Gurita (octopus)

Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: κτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan    :Animalia

Filum        :Moluska

Kelas        :Cephalopoda

Upakelas        :Coleoidea

Superordo    :Octopodiformes

Ordo        :Octopoda ,Leach, 1818

KELAS CEPHALOPODA

Subkelas Nautiloidea: nautilus

Subkelas Coleoidea

Superordo Decapodiformes: squid, cuttlefish

Superordo Octopodiformes

Ordo Vampyromorphida: Vampire Squid

Ordo Octopoda

Subordo Cirrata: finned deep-sea octopus

Familia Opisthoteuthidae: umbrella octopus

Familia Cirroteuthidae

Familia Stauroteuthidae

Subordo Incirrata

Familia Amphitretidae: telescope octopus

Familia Bolitaenidae: gelatinous octopus

Familia Octopodidae: benthic octopus

Familia Vitreledonellidae: Glass Octopus

Superfamilia Argonautoida

Familia Alloposidae: Seven-arm Octopus

Familia Argonautidae: argonauts

Familia Ocythoidae: Tuberculate Pelagic Octopus

Familia Tremoctopodidae: blanket octopus

CIRI-CIRI (Anatomi)

Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray.

Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang. Gurita mempunyai masa hidup yang relatif singkat dan beberapa spesies hanya hidup selama 6 bulan. Spesies yang lebih besar seperti Gurita raksasa Pasifik Utara yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram bisa hidup sampai 5 tahun di bawah kondisi lingkungan yang sesuai. Reproduksi merupakan salah satu sebab kematian, gurita jantan hanya bisa hidup beberapa bulan setelah kawin dan gurita betina mati mati tidak lama setelah bertelur. Kematian disebabkan kelalaian gurita untuk makan selama sekitar satu bulan sewaktu menjaga telur-telur yang belum menetas. Selubung bagian perut tubuh gurita disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung.

Gurita memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Darah gurita mengandung protein Hemosianin yang kaya dengan tembaga untuk mengangkut oksigen. Dibandingkan dengan Hemoglobin yang kaya dengan zat besi, Hemosianin kurang efisien dalam mengangkut oksigen. Hemosianin larut dalam plasma dan tidak diikat oleh sel darah merah sehingga darah gurita berwarna biru pucat. Gurita bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon. Gurita memiliki insang dengan pembagian yang sangat halus, berasal dari pertumbuhan tubuh bagian luar atau bagian dalam yang mengalami vaskulerisasi.

Siklus hidup dan Reproduksi

Gurita jantan bereproduksi dengan meletakkan kantong spermatofora ke dalam rongga mantel gurita betina menggunakan lengan istimewa yang disebut hectocotylus. Lengan kanan ketiga biasanya menjadi hectocotylus. Pada beberapa spesies, gurita betina bisa menjaga sperma agar tetap hidup sampai telur menjadi matang. Setelah dibuahi, gurita betina bisa bertelur hingga sekitar 200.000 butir. Jumlah telur gurita bisa berbeda-beda bergantung pada masing-masing individu, familia, genus atau spesies. Gurita betina menggantung kumpulan telur berbentuk kapsul yang membentuk untaian di langit-langit sarang. Setelah telur menetas, larva gurita untuk sementara waktu melayang bersama kawanan plankton sambil memangsa pakan berupa copepod, larva kepiting dan larva bintang laut sampai cukup besar dan berat untuk berada di dasar laut. Beberapa spesies gurita dengan habitat di laut dalam tidak perlu melewati siklus melayang bersama kawanan plankton. Periode sebagai larva merupakan saat penuh bahaya karena larva gurita mudah dimangsa pemakan plankton sewaktu menjadi bagian dari kawanan plankton.

Distribusi (penyebarannya)

 Meskipun bertubuh lunak, gurita memiliki mata dan rahang yang tumbuh dengan baik. Menurut Asikin (1981) dan Suwignyo (1989), mulutnya berbentuk paruh yang kuat untuk mengoyak dan menggigit mangsanya. Kulit tubuhnya banyak mengandung kromatofora yang berisi pigmen hitam, merah dan kuning yang dikendalikan oleh sistem syaraf. Warna tubuhnya dapat berganti-ganti sesuai dengan keadaan lingkungannya.

Gurita tergolong hewan karnivora. Makanannya terdiri atas siput, kepiting, udang dan ikan. Aktivitas makannya berlangsung pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah batu. Gurita selalu dihindari oleh predator, karena dapat membius indera chemoreceptor (Asikin, 1981 dan Suwignyo, 1989)

Gurita lebih suka merayap untuk mencari lubang atau celah karang atau cangkang moluska kosong untuk digunakan sebagai tempat persembunyiannya. Jika tidak menemukan tempat yang cocok, maka gurita akan membangun sarang dari batu-batuan dengan menggunakan ke-8 tangannya. Menurut Grzimek (1976), gurita akan bergerak mundur dengan cepat ketika berhadapan dengan predator atau menemui gangguan.

Penyebaran gurita sangat  luas dan terdapat hampir di seluruh perairan, mulai dari perairan dingin hingga panas. Dari perairan pantai hingga perairan dengan kedalaman lebih dari 1.000 m (Asikin, 1981). Roper et al (1984) menyebutkan bahwa gurita yang hidup di daerah karang sampai batas paparan benua pada kedalaman 200 m diantaranya adalah O. cyaneus, O. selena, O. mambranaceus, O. brianeus, O. vulgaris, dan O. joubini. Jenis gurita yang hidup di padang lamun adalah O. vulgaris dan O. maya

  1. Kima raksasa

Kima (Tridacna) adalah genus kerang-kerangan berukuran besar penghuni perairan laut hangat. Kima termasuk dalam famili Tridacnidae.


Gambar Kima (Tridacna)

Klasifikasi

Kerajaan: Animalia


Filum : Mollusca


Kelas : Bivalvia


Ordo : Veneroida


Famili : Tridacnidae


Genus : Tridacna

Morfologi Kima

Kima termasuk dalam kelas Bivalvia, suatu kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup. Bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran yang berlapis-lapis. Alat gerak berupa kaki perut yang termodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis, melekatkan diri pada substrat berbatu dengan semacam rambut atau organ yang disebut byssus.

Cangkang kima terbagi menjadi beberapa lekukan atau lipatan (folds). Punggung  lipatan di permukaan cangkang biasanya berbentuk seperti tulang rusuk sehingga sering disebut rib. Pada kima sisik, kima lubang dan kima Mauritius, tiap punggung lipatan memuat sebaris lempeng-lempeng berbentuk setengah mangkok yang disebut sisik (scutes). Sisik ini dulunya adalah bagian tepi dari mulut atau bibir cangkang (upper margin) yang kemudian tertinggal saat cangkang tubuh membesar



(Gambar 3).

Pada kima, kedua bilah cangkang disatukan oleh ligamen/semacam jaringan otot fleksibel yang disebut hinge. Di samping ligamen ini terdapat semacam pusat atau titik awal pertumbuhan cangkang yang disebut umbo. Disamping umbo terdapat semacam lubang tempat keluarnya organ pelekat (byssus) yang disebut bukaan byssus (byssal opening). Untuk lebih jelasnya, bagian-bagian cangkang kima dapat dilihat pada Gambar 3 di atas.

Di antara semua jenis kerang, kima adalah salah satu kerang dengan bentuk dan ciri yang paling unik. Ukuran cangkangnya sangat besar dan berat, sehingga disebut kerang raksasa (giant clam). Mantelnya yang memiliki sistem sirkulasi khusus, menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae,  makhluk aneh separuh hewan dan separuh tumbuhan yang berbulu cambuk dari marga Symbidinium. Makhluk bersel tunggal ini, mampu menghasilkan makanannya sendiri, melalui proses fotosintesis dengan memanfaatkan karbondioksida, fosfat dan nitrat yang berasal dari sisa metabolisme kima.

Reproduksi Kima

Kima termasuk jenis kerang yang bersifat hermafrodit sehingga satu individu dapat menghasilkan sperma dan sel telur. Akan tetapi, proses pematangan keduanya tidak terjadi secara bersamaan, sehingga perkawinan antara sperma dan telur dari satu individu tidak akan terjadi. Sperma dari satu individu akan membuahi sel telur yang dihasilkan oleh kima lain.

Cangkang yang besar dan berat tidak memungkinkan bagi kima untuk berpindah tempat, sehingga kima memiliki mekanisme yang unik untuk bereproduksi. Kima melakukan pembuahan secara eksternal dengan melepaskan sperma dan sel telur ke perairan di sekitarnya. Agar waktu pelepasan sperma dan sel telur ini terjadi secara bersamaan, maka kima yang satu akan mengirimkan pesan secara kimiawi kepada kima lainnya dengan melepaskan semacam zat kimia yang bersifat merangsang pemijahan. Zat kimia ini disebut SIS (Spawning Induced Substance).

SIS dilepaskan melalui siphon excurrent. Zat kimia ini akan mengalir mengikuti arus dan dapat “dibaca” oleh kima lainnya melalui suatu chemoreseptor yang terdapat di siphon incurrent. Pesan kemudian diteruskan ke ganglia cerebral yang berfungsi sebagai otak sederhana pada kima. Setelah pesan kimia ini sampai pada kima-kima lainnya, terjadilah pelepasan sperma dan sel telur secara bersamaan. Jadi, dalam hal ini, kima melakukan kawin massal.

Tingkat keberhasilan pembuahan secara eksternal lebih kecil dibandingkan pembuahan internal. Faktor lingkungan seperti kuat arus sangat berpengaruh terhadap distribusi sperma dan sel telur. Demikian pula dengan keberadaan pemangsa. Banyak jenis ikan dan biota laut lainnya yang gemar memakan telur-telur kima, karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

Untuk memperbesar tingkat keberhasilan, kima akan melepaskan sel telur sebanyak-banyaknya ke perairan sekitarnya. Tridacna gigas misalnya dapat melepaskan telur hingga lebih dari 500 juta butir dalam satu kali musim memijah. Telur ini berdiameter sekitar 100 mikron. Umumnya, proses pemijahan berlangsung selama pasang tinggi saat bulan purnama atau bulan baru. Telur dan sperma akan dilepaskan sedikit demi sedikit dengan interval 2-3 menit selama  30 menit hingga dua setengah jam.

Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi larva (trocophore)  setelah 12 jam. Larva ini akan membentuk cangkang kapur. Saat berumur 2 hari, larva akan membentuk kaki yang digunakan untuk bergerak ke dasar perairan dan berenang mencari lokasi yang cocok. Selama beberapa pekan pertama, larva akan bergerak untuk mencari tempat yang sesuai. Jika mendapatkan tempat yang dirasa cocok, larva akan menempel di lokasi tersebut untuk seumur hidupnya.

Larva kima belum memiliki zooxanthella dalam tubuhnya sehingga masih mengandalkan plankton sebagai sumber makanan. Zooxanthella yang terbawa arus dan masuk kedalam sifon kima akan dikumpulkan dan disimpan di dalam jaringan mantel sedikit demi sedikit. Dari jutaan larva yang hidup, hanya sebagian kecil yang dapat tumbuh hingga fase juvenil. Kima akan menjadi juvenil saat ukurannya mencapai 20 cm. Kima raksasa akan terus membesar dengan laju pertumbuhan 12 cm per tahun dan dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun.

Sebaran

Populasi Kima sangat melimpah di habitatnya. Di Great barrier reef Australia, daerah karang otak seluas 1 m persegi dapat memuat antara 100 hingga 200 kima lubang dengan berbagai ukuran (Hamner 1978, Hamner & Jones 1976). Kima lubang menempati habitat perairan yang paling dangkal dari 0 hingga 8 m di bawah permukaan laut. Kima ini juga tahan saat berada dalam kondisi surut terendah. Cangkangnya dapat menutup dengan rapat dan sempurna sehingga dapat mempertahankan kandungan air di dalam cangkang, saat terpapar matahari dan atau terekspose udara terbuka.


  1. Kerang Bulu (Anadara Maculosa)
  2. Gambar.
  1. Klasifikasi

    Kingdom     :     Animalia

    Pylum    :    Mollusca

    Kelas    :    Pelecypoda (Bilvalvia)

    Ordo    :    Taksondata

    Famili    :    Arcidae

    Genus    :    Anadara

    Spesies    :    Anadara Maculosa

  1. Siklus Hidup dari Telur hingga Dewasa

    Dalam Pelecypoda, sel telur yang telah matang akan dikeluarkan dari ovarium. Kemudian masuk ke dalam ruangan suprabranchial. Di sini terjadi pembuahan oleh sperma yang dilepaskan oleh hewan jantan. Telur yang telah dibuahi berkembang menjadi larva glochidium. Larva ini pada beberapa jenis ada yang memiliki alat kait dan ada pula yang tidak. Selanjutnya larva akan keluar dari induknya dan menempel pada dinding Kerang sebagai parasit, lalu menjadi kista. Setelah beberapa hari kista tadi akan membuka dan keluarlah pelecypoda muda.

  1. Ciri- Ciri Morfologi dan Anatomi

    Cangkang memiliki belahan yang sama melekat satu samam lain pada batas cangkang. Cangkang kerang ini di tutupi oleh rambut-rambut serta cangkang tersebut lebih tiis daripada kerang darah (Anadara Granosa),

  1. Habitat

    pada umumnya Kerang bulu hidup di prairan berlumpur dengan tingkat kekeruhan tinggi.

  1. Bintang lautA. klasifikasi
    Klasifikasi bintang laut :
    Kingdom : Animalia
    Phylum : Echinodermata
    Class : Asteroidea
    Genus : Asteroidea
    Spesies : Asteroidea sp

PENGATAR.
Sistem ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa. Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke saluran lateral. Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula.Dari saluran lateral, air masuk ke ampula.

             Saluran ini berkahir di ampula Jika ampula berkontraksi, maka air tertekan dan masuk ke dalam kaki tabung. Akibatnya kaki tabung berubah menjulur panjang. Apabila hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas. Selanjutnya ampula mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk. Kaki tabung sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya. Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya.
Stomach : sebagai alat pencernaan.
Mulut : tempat menyerap makanan
Anus : mengeluarkan sisa metabolisme .
Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin.
C. peranan bintang laut bagi kehidupan
Sebagai detrivor yaitu pemakan materi organik ,herbivora, karnivora, kotoran dan bangkai laut. Sehingga laut menjadi bersih dan keseimbangan ekosistem terjaga.

.

B.Anatomi dan Morfologi

ciri-ciri :
            Tubuh terdiri atas lima lengan atau lebih yang tersusun radial
Pada ujung-ujung lengan terdapat alat sensor.
Ujung tentakel pada bintik matayang mengandung pigmen merah ,peka terhadap cahaya.
Permukaan tubuh bagian atas di tutupi duri-duri tumpul berbentuk catut (pediselaria)
Pada umumnya berwarna oranye,biru, ungu, hijauatau gabungan warna-warna tersebut

 Alat organ tubuhnya bercabang ke seluruh lengan Mulut terdapat di permukaan bawah atau disebut permukaan oral dan anus terletak di permukaan atas (permukaan aboral).
Kaki tabung tentakel (tentacle) terdapat pada permukaan oral. Sedangkan pada permukaan aboral selain anus terdapat pula madreporit.
Madreporit adalah sejenis lubang yang mempunyai saringan dalam menghubungkan air laut dengan sistem pembuluh air dan lubang kelamin.

C.Reproduksi
Pertumbuhan A. planci sangat dipengaruhi oleh makanannya. Anakan A. planci yang makan algae mempunyai pertumbuhan sekitar 2,6 mm/bulan, sedangkan yang makan karang mempunyai pertumbuhan sekitar 16,7 mm/bulan (review in Moran 1990). Ketika dewasa, pertumbuhan melambat kembali menjadi sekitar 4,5 mm/bulan. Anakan A. planci yang berukuran kurang dari 10 mm memakan algae, sedangkan yang berukuran 10-160 mm sudah mulai memakan jaringan karang (Moran 1990). Individu dewasa berukuran sekitar 250-400 mm, dengan rekor terbesar adalah 800 mm.
Bintang laut A. planci mempunyai kelamin yang terpisah (berkelamin tunggal), dengan pembuahan eksternal. Rasio kelamin biasanya 1:1 (Moran 1990). Pemijahan terjadi pada musim panas. Di belahan bumi (hemisfer) utara, misalnya Jepang, pemijahan terjadi pada bulan Mei-Agustus. Di belahan bumi selatan, misalnya Australia, pemijahan terjadi pada bulan Nopember-Januari (Moran 1990), atau Desember-April (CRC 2003). Pemijahan berlangsung sekitar 30 menit (Moran 1990). Individu dewasa biasanya bergerombol sebelum pemijahan, dan memijah secara bersama pada saatnya. Ketika seekor betina memijah, maka suatu feromon yang keluar bersama telur akan memicu pemijahan betina lain dan bintang laut jantan yang ada di sekitarnya. Efektivitas feromon dalam memicu pemijahan tetangganya diperkirakan seluas radius 1-2 meter. Pemijahan berjamaah ini sangat penting bagi invertebrata laut untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.
Pemijahan invertebrata banyak dipengaruhi oleh fluktuasi musiman suhu air laut. Pada saat ini, kebanyakan penelitian tentang pemijahan invertebrata dilakukan di kawasan yang mempunyai empat musim atau temperata (temperate). Di kawasan tropis, seperti Indonesia, perbedaan suhu air laut antar musim tidak sebesar di kawasan temperata, sehingga musim pemijahan di kawasan tropis dapat berbeda dari kawasan temperata. Karena itu, mengetahui musim pemijahan A. planci di Indonesia merupakan topik yang masih sangat menarik. Apalagi perairan laut Indonesia merupakan transisi antara Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia.

Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan betina tergantung pada ukuran atau berat tubuh betina. Betina pemijah biasanya berumur 2-3 tahun, atau ukuran diameter tubuhnya lebih dari 25 cm (CRC 2003). Betina yang dewasa mempunyai ukuran tubuh 500-4000 gram, yang memiliki fekunditas sekitar 4-65 juta telur (Moran 1990). Jumlah telur yang sangat besar memang diperlukan oleh kebanyakan invertebrata laut. Kelulushidupan yang rendah harus diimbangi dengan jumlah telur yang sangat besar, sehingga larva yang selamat menjadi dewasa dapat dipertahankan. Telur A. planci berukuran 200 mikron, sedangkan sperma berukuran sekitar 1-2 mikron (Moran 1990). Ukuran telur dan sperma ini tidak banyak berbeda dengan ukuran umum gamet invertebrata laut.

D.Siklus Hidup
Siklus hidup A. planci pada prinsipnya sama persis dengan pola siklus hidup hewan Asteroidea (bintang laut) yang lainnya. Zigot yang terjadi pada saat pemijahan berkembang melalui proses-proses blastulasi dan gastrulasi yang kemudian memasuki tahapan dua fase larva secara berurutan, yaitu bipinnaria dan brachiolaria. Kedua larva tersebut hidup sebagai plankton sehingga pergerakannya mengikuti arah arus. Larva brachiolaria yang matang mempunyai daya apung negatif sehingga turun ke dasar laut yang biasanya di kawasan terumbu karang. Diduga larva brachiolaria menggunakan ‘aroma’ alga berkapur sebagai tanda-tanda untuk turun menempel pada terumbu karang. Setelah menempel di dasar terumbu, dimulailah kehidupan sebagai bentos bagi A. planci. Penempelan larva A. planci kemungkinan terjadi di tempat yang dalam karena pemangsaan karang oleh A. planci biasanya dimulai dari karang di tempat yang dalam.
Periode planktonis dari A. planci berlangsung sekitar dua atau tiga minggu. Makanan larva planktonis A. planci terdiri dari fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut (Okaji et al. 1997). Periode planktonis larva brachiolaria diakhiri dengan berkembangnya lima lengan melalui metamofosis dan menempel di dasar terumbu.     Metamorfosis tersebut terjadi setelah hari ke-12 (Olson 1985). Ukuran diameter A. planci pada saat terjadi penempelan sekitar 0,5-1 mm atau 500-1000 mikron. Anakan A. planci yang sudah menempel di terumbu mendapatkan makanan dari alga berkapur.

        Pada umur sekitar 4-6 bulan, ketika ukuran tubuhnya mencapai 10 mm, A. planci merubah makanannya menjadi pemangsa karang dan mampu tumbuh jauh lebih cepat (review in Keesing and Halford 1992).
Laju mortalitas A. planci sangat tinggi, sebagaimana invertebrata laut lainnya. Laju mortalitas akan berkurang dengan bertambahnya ukuran tubuh A. planci. Pada kotak percobaan di lapangan, laju mortalitas anakan A. planci pada ukuran 1,1 cm atau umur satu bulan adalah 6,49% per hari (Keesing and Halford 1992). Laju mortalitas tersebut menurun pada hewan yang lebih besar menjadi 1,24% per hari pada ukuran 2,7 mm (4 bulan) dan menjadi 0,45% per hari pada ukuran 5,5 mm (7 bulan). Di dalam kajian Moran (1990) disebutkan bahwa laju mortalitas A. planci pada umur 7-23 bulan adalah 99,3%, atau sekitar 1,08 % per hari, sedangkan laju mortalitas A. planci antara umur 22-34 bulan adalah 75%, atau sekitar 0,39% per hari. Ketiga penelitian tersebut dilakukan pada saat terjadi peledakan populasi, sehingga faktor kepadatan populasi dapat berpengaruh.

KIJING (Pseudodon Vondenbus Chiaba)

KIJING (Pseudodon Vondenbus Chiaba)

Oleh:

RAHMAN PELU


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN (BDP)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

  1. PENGERTIAN KIJING

    Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis) adalah salah satu kijing yang dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pangan dari hasil perairan. Kijing ini banyak ditemukan di danau dan perairan tawar lainnya.

    Kecepatan reproduksi kijing ini cukup tinggi seperti halnya anggota dari kelas Bivalvia lainnya, terutama di daerah tropis. Kijing ini mendapatkan makanannya dengan cara menyaring air yang mengandung makanan didalamnya. Kerang ini mampu menyaring fitoplankton dan material tersuspensi lainnya

  2. KLASIFIKASI KIJING

    Filum: Moluska

    Kelas: Bivalvia (Pelecypoda)

    Ordo: Eulamellibranchiata

    Sub Ordo: Integripalliata

    Famili: Unionidae

    Genus: Pilsbryoconcha

    Spesies: Pilsbryoconcha exilis

  3. MORFOLOGI DAN ANATOMI
  • Morfologi kerang air tawar

Tubuh kijing atau kerang air tawar terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan bagian luar. Bagian luar di sebut cangkang atau kulit. Sebagian besar organ tubuh kerang air tawar berada di bagian dalam. Organ-organ itu hanya bisa dilihat apabila cangkangnya dibuka dengan lebar, sedangkan bila dibuka dengan sempit, hanya beberapa organ saja yang bisa dilihat.

Cangkang atau kulit adalah bagian yang langsung berhubungan dengan perairan. Warnanya coklat kehi-jauan. Bagian ini sangat keras seperti batu. Bila dilihat dari atas, sebagian besar cangkang kerang air tawar berbentuk oval, tapi ada juga yang mendekati bulat. Sedangkan bila dilihat dari samping, cangkang kerang air tawar berbentuk lonjong di satu bagian, lalu memipih ke bagian lainnya.

Ada dua bagian pada cangkang kerang air tawar, yaitu cangkang sebelah kiri dan cangkang sebelah kanan. Cangkang kiri biasanya lebih pipih dibandingkan dengan cangkang kanan. Kedua cangkang dihubungkan dengan sebuah engsel, sehingga kedua bagian cangkan itu membuka dan menutup.

Cangkang kerang air tawar dihiasi dengan beberapa lingkaran berupa lekukan. Lingkaran-lingkaran berpusat pada sebuah titik yang dekat engsel. Lingkaran paling besar nampak dibagian tepi cangkang, lalu mengecil ke titik pusat. Ada enam sampai delapan lingkaran pada setiap cangkang kerang air tawar. Lingkaran-lingkaran itu berwarna tak jauh dari warna cangkang, tapi ada juga yang berwarna kuning

Bila dipecah, pada cangkang kerang air tawar akan terlihat tiga buah lapisan. Lapisan pertama disebut periostracum layer. Lapisan kedua disebut prismatic layer. Sedangkan lapisan ketiga disebut nacreous layer. Setiap lapisan dapat dibedakan dari struktur dan warnanya.

Periostracum layer adalah lapisan paling luar. Lapisan ini sangat kasar seperti tanduk . Periostracum layer tersusun dari bahan organik. Prismatic layer adalah lapisan tengah. Lapisan ini lebih halus dibanding periostracum layer. Prismatic layer tersusun dari kristal-kristal prisma hexagonal calcite. Sedangkan nacreous layer adalah lapisan dalam. Lapisan ini tersusun dari calsium carbonat dalam bentuk kristal aragonit.

Secara anatomi, tubuh kerang air tawar dan tubuh hampir semua jenis moluska lainnya terbagi menjadi tiga bagian, yakni kaki, mantel dan visceral mass. Visceral mass adalah kumpulan organ-organ bagian dalam, seperti insang, mulut, perut, gonad, anus dan organ penting lainnya.

Kaki tersusun dari jaringan-jaringan otot yang elastis. Bentuknya seperti lidah. Bisa memanjang dan bisa memendek. Saat memanjang, kaki biasanya digunakan untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, terutama ketika masih muda. Selain untuk berjalan, kaki juga digunakan sebagai alat pembersih kotoran pada mantel dan insang.

Pergerakan kaki terjadi akibat adanya tekanan syaraf melalui darah. Bila terjadi tekanan, maka kaki akan memanjang dan tegar. Perpanjangan kaki bisa mencapai tiga kali lipat dari keadaan normal. Saat itulah, kakinya berfungsi dan menyebabkan cangkang terbuka dengan sendirinya.

Pada bagian kaki, ada organ lain yang bentuknya seperti rambut atau serat yang berwarna hitam. Organ itu dinamakan bisus. Bisus digunakan oleh kerang air tawar sebagai alat untuk menempelkan tubuhnya pada tempat yang disukai. Penempelan terjadi setelah kerang berjalan ke satu tempat.

  • Anatomi kijing (Kerang air tawar)

Anatomi kijing itu sendiri terdiri atas tiga bagian utama yaitu mantel, insang, dan organ dalam. Mantel besar menggantung diseluruh badan dan membentuk lembaran yang luas dari jaringan yang berada di bawah cangkang. Seluruh permukaan mantel mensekresikan zat kapur. Selain itu juga diproduksi sifon pada lapisan mantel yang befungsi sebagai jalan keluar masuk air yang terdiri atas sifon inhalant dan exhalant. Kijing ini mempunyai sepasang insang yang besar yang terletak pada kedua sisi badan, membentuk lamella yang besar dan hampir menutupi badan. Terdapat pembuluh darah yang berhubungan dengan jantung bagian dorsal yang mengirim darah dari insang menuju organ dalam, mantel, kaki dan bagian belakang. Insang pada kijing ini digunakan untuk bernafas, tempat untuk mengerami telur–telurnya, dan menyaring makanan yang larut didalam air. Organ dalam pada kijing air tawar terdiri atas organ–organ vital seperti perut, usus, kelenjar pencernaan (liver, pankreas, dan lain–lain), gonad, dan kaki. Kaki merupakan otot terbesar yang ada dalam tubuh kijing yang digunakan untuk bergerak dan menggali (Sulistiawan, 2007).

  1. REPRODUKSI KIJING

    Kijing tawar memperlihatkan pola misiman, baik spesies yang hidup di daerah beriklim sedang maupun yang hidup di daerah tropk. Aktifitas reproduksi yang memperlihatkan pola musiman meliputi gametogonesis yang di ikuti dengan pelepasan gamet.

    Musim kawin yaitu saat sperma di semburkan untuk membuahi ova yang sedan menuju ruang insang (marsupium) dan masa kebuntingan yaitu periode pengeraman larva (glokudium) di dalam marsupium yang di susul oleh proses penyemburan glokidia yang sudah masak melalui sifon ekskuren.

  2. DISTRIBUSI/PENYEBARAN

    Kijing air tawar (mollusca: Bivalvia) merupakan bivalvia yang tersebar luas di perairan tawar. Penyebarannya yang luas meliputi daerah tropik di sebelah utara dan daerah beriklim sedangdi selatan, berbagai aspek biologi jenis ini telah di kaji orang, termasuk siklus reproduksinya. Akan tetapi studi tersebut kebanyakan dilakukan di daerah beriklim sedang (walker, 1981).

  3. SIKLUS HIDUP


  4. GAMBAR OBJEK







TAMBAK BUDIDAYA UDANG

 

RAHMAN PELU (EL NINO HITU)



FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

A. PENDAHULUAN

A1. Sejarah Tambak

Usaha pengembangan budidaya tidak terlepas dari ketersediaan tempat atau wadah yang dapat mengolah perkolaman yang luas sehingga dibutuhkan suplay air dalam jumlah yang banyak dan diusahakan berlokasi sedekat mungkin dengan sumber air tersebut yakni dekat pantai dan muara sungai.

Pada tahun 2004 DKP propinsi Halmahera Barat Kecamatan Jailolo menyediakan lokasi bagi para petambak tepatnya didesa Gamlamo, petak tambak mulai dibangun seluas 3 hektar dan dipetak dengan ukuran 25 x 25 cm dalam 2 petak, organisme yang dibudidayakan adalah udang windu. Pada tahun 2005 ditambah lagi 6 petak untuk udang windu, dalam 1 petak hasilnya 100 kg.

Pada tahun 2006 – 2008 sudah dibudidayakan ikan bandeng tapi bibitnya yang masih terlalu kurang, maka ditambah lagi 2 petak tambak membudidayakan udang vaname pada saat panen udang vaname tidak seragam karena tinggkat perlakuan pada saat penebaran dan penyuburan yang masih minim, Saat ditebar udang vaname sebanyak 2500 per ekor dalam 1 petak jadi dalam 10 petak berkisar anatara 60 – 10 %.

Pengelolaan tambak masih semi intensive:

  • Menggunakan bibit unggul (Hacery)
  • Mempertahankan kedalaman air dengan menggunakan alkon
  • Pakan yang digunakan pakan pellet
  • Sistem pengawasan (monitoring) setiap saat
  • Secara visual belum ada penyakit yang didapat

A2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini adalah:

  1. Untuk mengetahui sistem pengelolaan tambak meliputi pemilihan lokasi, spesis yang dibudidayakan, pakan dan pemberian pakan, penyakit dan kualitas air.
  2. Untuk mengetahui nilai parameter pH, suhu maupun salinitas pada tambak ikan maupun udang yang terdapat di Kabupaten Halmahera Barat, Kecamatan Jailolo Desa Gamlamo

Manfaat dari praktikum ini adalah Sebagai bahan informasi sistem pengelolaan tambak dan dasar acuan dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan tambak guna meningkatkan produktifitas tambak khususnya untuk pengembangan budidaya udang.

B. PEMBAHASAN

B1. Dasar Pemilihan Lokasi

  1. Lokasi yang digunakan untuk budidaya udang mudah dijangkau
  2. Lahan yang digunakan bukan lahan konflik
  3. Lingkungan harus layak secara tekhnik maupun non tekhnik
  4. Pasokan air yang masuk dan air yang keluar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan
  5. Air yang tersedia harus benar-benar bersih dan tidak tercemar oleh limbah.

B2. Tahapan Pembuatan atau Konstruksi Kolam Tambak

Luas tambak yang ada dilokasi kecamatan jailolo desa Gamlamo seluas 3 Hektar dengan 10 petakan dengan masing-masing ukuran setiap petaknya 25 x 25 cm, dengan kedalaman tambak 1 meter, lebar pematang 2 meter, panjang pintu air masuk 3 meter, lebar tandon 4,40 meter dan alat yang digunakan dalam pembuatan tambak menggunakan saplak dan kadok toplok (alat pengangkut lumpur), waktu yang di butuhkan saat pembuatan tambak sekitar 2 minggu dan untuk 2 petakan 10 orang pekerja.

B3. Manajemen Pengadaan Benih

Benih yang diambil dari balai karantina (Unjung Pandang) pengujian bibit unggul (hacerry), benih awal masih post larva rata-rata yang digunakan PL-8 dan PL-30.

B4. Manajemen Kualitas Air

  • Oksigen Terlarut (DO)

Kelarutan kandungan oksigen yang terukur berkisar antara 3,55 – 5,4 ppm. Kelarutan oksigen ini menunjukan kondisi yang optimal selama kegiatan ujicoba pada budidaya udang , sementara untuk kebutuhan minimal pada air media pemeliharaan udang adalah > 3 ppm (Anonim, 2007). Sedagkan hasil yang didapatkan saat pengukuran dilokasi tambak dikecamatan Jailolo adalah oksigen terlarut (DO) 3,84 ppm, maka kandungan kelarutan oksigen terlarut yang optimal.

  • Suhu

Berdasarkan  hasil  penelitian  para ahli, terbukti bahwa pada suhu rendah metabolisme udang menjadi rendah dan secara nyata berpengaruh terhadap nafsu makan udang (Byod, 1989).  Hasil pengamatan dari kedua petak ujicoba terukur suhu air media berkisar antara 26,7 – 29,8oC, dari data kisaran suhu ini menunjukan cukup optimal untuk proses metobolisme udang yang dipelihara. Sedangkan nilai suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan udang vaname berkisar antara 28,0 – 31,5 0C (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991). Sedangkan pengamatan dilokasi tambak saat pengukuran dikecamatan Jailolo adalah suhu 33,6 oC, maka pertumbuhan masih optimal.

  • pH Air

Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air (ikan dan udang) memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6.8 – 8.5 (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1991).  Pada pH  dibawah 4,5  atau diatas 9,0 ikan atau udang akan mudah sakit dan lemah, dan nafsu makan menurun bahkan udang cenderung keropos dan berlumut. Apabila nila pH yang lebih besar dari 10 akan bersifat lethal bagi ikan maupun udang. Nilai pH dari kedua petak kegiatan ini relatif dalam kondisi yang optimal dan fluktuasi harian termasuk kedalam batas yang masih aman. Dalam pengukuran dilokasi tambak kecamatan Jailolo adalah 7-8, maka organisme tersebut dapat tumbuh dengan baik.

  • Salinitas

Udang vaname dapat tumbuh dan berkembangan pada kisaran salinatas 5 – 30 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991), bahkan jenis udang vaname mempunyai toleransi cukup luas yaitu antara 0 – 50 ppt. Namun apabila salinitas di bawah 5 ppt dan di atas 30 ppt biasanya pertumbuhan udang vaname relatif lambat, hal ini terkait dengan proses osmoregulasi dimana akan mengalami gangguan  terutama pada saat udang sedang ganti kulit dan proses metabolisme. Sedangkan hasil yang didapatkan di lokasi jailolo adalah 1,43 ppt maka pertumbuhan dan perkembangan masih relatif lambat.

  • Kecerahan

Kecerahan dilokasi tambak Kecamatan Jailolo Desa Gamlamo adalah 30 cm dengan kedalaman tambak 1 meter.

Volume air masuk dan volume air keluar, masih mengandalkan pasang surut, saat pengolahan air dikeluarkan 1/3 dari air dan pada saat pemasukan 1/3 lagi maka dalam 1 bulan 6 kali pergantian air. Pada pintu air menggunakan filter agar dapat menyaring mikroorganisme yang patogen bagi organisme yang dibudidayakan ditambak, dan tandon digunakan untuk penampungan air agar dapat mengedap sehingga air yang terdapat ditandon benar-benar air yang bersih.

B5. Manajemen Pakan

Pemupukan dasar tambak untuk menumbuhkan pakan alami dengan menggunakan pupuk urea dan TSP, saat pH tanah turun digunakan kapur Dolomid. Pada saat penebaran pakan setelah udang berumur 1 minggu diberi pupuk urea 5 kg dan TSP 3 kg untuk 1 petak, setelah 2 minggu penebaran pakan diberi pupuk urea 2,5 kg dan TSP 1kg untuk menumbuhkan pakan alami, setelah 1 bulan barulah diberi pakan buatan berupa pellet. Jenis pakan yang digunakan adalah pakan pellet dengan merek pakanya Bintang, Irawan, dan Tata.

Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

a. Umur 1-10 hari pakan 01

b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02

c. Umur 16-30 hari pakan 02

d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03

e. Umur 36-50 hari pakan 03

f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).

g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian. Dari hasil pengamatan sistem pemberian pakan buatan tidak menggunakan takaran, tetapi hanya menggunakan sistem perkiraan saja dan waktu pemberian 2 kali dalam sehari yaitu waktu pagi dan sore,

B6. Manajemen Pasca Panen

Saat pasca panen dilakukan dengan 2 cara pemanenan yaitu:

  1. Panen selektif

Panen selektif dilakukan pada saat udang yang sudah dewasa dan siap untuk diproduksi ke pasaran, sedangkan

  1. Panen total

Panen total adalah panen secara merata sampai pada saat pengeringan tambak, panen total juga dilakukan akibat terserang penyakit.

Sistem produksinya dalam 1 petak hasilnya sebanyak 100 kg, dan pemasaran yang dilakukan di 2 tempat yaitu Jailolo dan Ternate.

C. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Tambak yang dikelola petani tambak kecamatan Jailolo didesa Gamlamo masih menggunakan sistem semi intensive.
  2. Lokasi yang dipilih untuk pembuatan tambak adalah zona hijau lokasi tumbuhnya hutan mangrove.
  3. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan bentuk pellet dan penumbuhan pakan alami dalam tambak dengan menggunakan pupuk.

D. DAFTAR PUSTAKA

Amri. K, 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka Tangerang.

Halima. R. W. dan Adijaya, 2005. Budidaya Udang Vanamei. Swadaya Jakarta.

Murtidjo. B. A. 2003. Benih udang Skala Kecil. Kanisius.Yogyakarta.

Sumeru. S.U. dan Anna. S. 1992. Pakan Udang Windu (Penaeus monodon).

Sahwan. M. F. 2003. Pakan Ikan Dan Udang. Penebar Swadaya Jakarta.

Soetomo . M. 1990. Teknik Budidaya Udang Windu. Penerbit Sinar Baru. Bandung.

SEL

BERBAGI ILMU

Oleh

RAHMAN PELU (EL NINO HITU)

051 709 021


 

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

 

 

Pengertian sel

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupai dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan di atur dalam suatu sel dan berlangsung didalamnya. Sel juga terbagi menjadi 2 yaitu: sel eukariota, dan sel prokariota. Sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular, sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling kerja sama dalam lingkup yang rapi (anonymous 2009).

 

Bentuk-bentuk sel dan contohnya

Pada sel hewan bentuknya tidak tetap karena tidak memiliki dinding sel , sehinga membrane sel dapat bergerak dengan bebas. Pada tumbuhan bentuknya tetap karenamemiliki dinding sel, sehingga gerakaan membrane sel terbatas. Sel bisa berbentuk batang (basil), bulat (coclus), oval dan spiral (anonymous 2009).

 

Bagian-bagian sel dan fungsinya

  • Membran plasma : berfungsi untuk melindungi sel, mengatur keluar masuknya zat-zatdan sebagai respirator dari rangsanganluar sel.
  • sitoplasma : sebagai tempat berlangsungnya reaksi metabolisme sel.
  • nucleus : sebagai pengendali kehidupan sel, pengatur pembelahan sel, pengatur warisan sifat dan pengatur pembelahan sel.
  • lisosom : berfungsi mencerna zat-zat yang masuk ke dalam sel
  • RE (halus) : berfungsi mensitesis lemak, dan menetralisir racun.
  • kompleks golgi : organel yang menampung dan mengolah protein.
  • mikrotubulus : mengatur dalam pergerakan kromosom saat sel membelah.
  • vakoula : tempat menyimpan cadangan makanan
  • mitokondria : sebagai tempat respirasi selular.
  • badan bolgi : merupakan tempat situs respirasi selular.
  • kloroplas : tempat berlangsungnya fotosintesis.

 

 

 

1. Proliferasi sel: sel-sel epidermis akan berproliferasi/ memperbanyak diri sehingga epidermis menebal dan lamella sekunder yang satu akan bergabung dengan lamella sekunder yang lain (melebur/ fused lamella). Adanya lamella yang melebur ini akan menyulitkan ikan dalam mengambil oksigen dari air karena sel darah merah tidak dapat kontak dengan molekul oksigen. Akibatnya ikan akan mengalami hypoksia (kekurangan oksigen) dan mati. Proliferasi sel ini dapat terjadi karena serangan parasit seperti cacing, polusi serta serangan pathogen. Pada kondisi yang parah, lamella sekunder menyatu sehingga struktur lamella sekunder secara keseluruhan nampak seperti “daun”.

2. Hypertrophy: pada hypertrophy ini sel-sel pada lamella sekunder membesar, tetapi jumlahnya tidak bertambah. Akibatnya lamella sekunder menjadi tebal dan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

3. Hyperplasia: sel-sel pada lamella sekunder bertambah banyak, lamella sekunder menjadi lebar/ besar

4. Teletangiectasis: ada pelebaran pada bagian distal dari lamella sekunder, sehingga lamella sekunder ini berbentuk seperti raket untuk badminton

5. Kongesti: ada pelebaran pembuluh darah dan di dalam pembuluh tersebut penuh berisi darah (melebihi kapasitas normal)

6. Hemoragi: bila kongesti sudah sangat parah, maka pembuluh darah akan pecah dan darah berada pada tempat yang tidak semestinya.

7. Odema/ pembengkakan: ada suatu bagian yang terisi cairan sehingga bagian tersebut membesar dan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

8.
Nekrosis/ kematian sel: ada suatu sel / sekelompok sel yang mengalami perubahan atau mati. Sel yang mengalami nekrosis tersebut dapat dikenali dari bentuk intinya yang mengecil, membesar, kabur atau hilang, atau dikenali dari sitoplasmanya yang hilang sehingga tidak mengisap zat warna yang diberikan dalam proses pembuatan preparat histologi. Pada kondisi yang sangat parah, misalnya serangan virus herpes koi, sebagian besar dari jaringan insang mati/ membusuk dan akibatnya ikan akan mati.

9. Atrophy / lisut: sel-sel pada lamella sekunder mengalami atrophy / lisut, sehingga lamella sekunder hanya nampak seperti benang yang tipis kecil. Kondisi seperti ini pernah dijumpai pada ikan yang dipaparkan dalam limbah pabrik kelapa sawit.

TERIPANG

BERBAGI ILMU

Oleh

RAHMAN PELU (EL NINO HITU)

051 709 021


 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

Teripang atau juga disebut suaal, merupakan salah satu jenis komoditi laut yang bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek yang baik dipasaran domestik maupun internasional. Budidaya teripang telah lama dilakukan oleh masyarakat kita khususnya di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara (Kolaka), Lampung dan Riau, benih yang dibudidayakan masih berasal dari alam. Dengan semakin banyaknya permintaan akan teripang, maka benih sebagai sumber produksi akan sulit dipenuhi dari alam serta penyediaannya tidak dapat kontinyu. Upaya dalam mengatasi penyediaan benih adalah dengan usaha memijahkan teripang sehingga kebutuhan akan benih dapat tercukupi. Pada tahun 1992 Balai Budidaya Laut Lampung telah berhasil melaksanakan pemijahan teripang putih (Holothuria scabra). Teripang terdiri dari 5 jenis teripang putih (Holothuria scabrai) merupakan jenis yang bernilai komersial.

Berbagai jenis hasil laut non ikan seperti teripang, lola, japing-japing, rumput laut, sango-sango dan kerang mutiara banyak terdapat perairan laut Sulawesi Tenggara. Hasil laut tersebut telah sejak lama diusahakan oleh nelayan yang bertempat tinggal di sepanjang pantai pulau-daerah ini, disamping usahanya menangkap ikan. Bilas musim penangkapan ikan sedang sulit, maka para nelayan tradisional melakukan pencarian, pengumpulan hasil laut non ikan apa saja yang dijumpai di sekitar mereka tinggal sebagai penghasilan tambahan.

Produksi laut non ikan ini pada tahun 1979 tercatat sebesar 491 ton yang diperdagangkan secara antar pulau. Kemudian pada tahun 1984 meningkat mejadi 1.396 ton. Peningkatan ini antara lain disebabkan oleh beberapa hal yaitu :

  1. Nelayan tradisional dengan peralatan penangkapan ikan yang sederhana menjadi tidak produktif lagi, sehingga banyak diantara mereka mengalihkan usahanya mencari hasil laut non ikan secara lebih intensif.
  2. Harga hasil laut non ikan cukup tinggi bila dibandingkan dengan ikan yang mampu diperolehnya dengan peralatan tradisionalnya, lagi pula dalam pengumpulan hasil laut tidak memerlukan peralatan yang mahal dan penanganan pasca panen yang serius.
  3. Usaha budidaya rumput laut dan teripang mulai berhasil.

Pengumpulan rumput laut, dilakukan oleh nelayan bila harganya cukup menarik bagi mereka, harga rumput laut (1985) hanya berkisar Rp 100,- s/d Rp 125,-/Kg. sedangkan harga lola dan japing-japing berkisar Rp 1.750,- s/d Rp 3.750,- Kg. dan harga teripang yang berkwalitas baik mencapai Rp 20.000,-/Kg.

Tertarik akan harga teripang yang baik, mulai awal tahun 1985 banyak nelayan yang melakukan pemeliharaan (pembesaran) teripang. A nak-anak teripang yang banyak terdampar di pantai-pantai dikumpulkan dan dipelihara disuatu daerah pemeliharaan yang telah disiapkan. Yaitu berupa perairan di pantai yang dipagar rapat yang luasnya bervariasi antara 200 s/d 800 m2. Pada saat nelayan dalam penyelaman mencari teripang dewasa memperoleh teripang-teripang yang masih muda tersebut dipelihara dibesarkan dalam kurungan. Nampaknya usaha pemeliharaan teripang ini mempunyai pengaruh positif dalam usaha meningkatkan pendapatan nelayan dan menjaga kelestarian potensi sumber khususnya teripang di sekitar perairan dimana nelayan bermukim.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Klasifikasi Teripang

Klasifikasi teripang :

Kingdom    : Animalia

Phylum        : Echinodermata

Class        : Holothuroidea

Genus         : Holothuria

Spesies        : Holothuria indica

b.Bagian tubuh teripang dan fungsinya

tentakel : berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat penagkap mangsa.

à Stomach/perut : sebagai alat pencernaan.

à Gonad : kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon kelamin.

à Saluran kelamin : Berfungsi sebagai saluran menuju gonad.

à Madreporit : Lempeng tali lapisan pada ujung saluran air.

à Esofagus : saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan

à rongga mulut dan lambung. Dorsal mesentery : berfungsi sebagai pembungkus usus dan menggantungnya ke dinding tubuh pinggang.

à Anus : mengeluarkan sisa metabolisme pada teripang.

à Cloaca : sebagai alat pencernaan.

à Intestin : sebagai alat pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga usus.

c. Manfaat bagi kehidupan manusia teripang merupakan sumber makanan bagi mausia.

d. ciri-ciri:

• Bentuk tubuh menyerupai mentimun yang berkulit lunak.

• Tidak mempunyai lengan dan duri mereduksi menjadi spikula

• Daya regenerasi tinggi.

• Berwarna hitam coklat dan hijau.

• Dilengkapi alat pembelaan diri berupa zat perekat yang di hasilkan dari anullus.

• Mulut dan anus terletak pada ujung berlawanan.

• Mulut dikelilingi oleh tentakel

1.1. Persiapan lokasi

Pemilihan lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya. Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.

Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu. Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.

Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama.


Pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut.


1) Lokasi terlindung

Lokasi budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.

2) Kedalaman air

Kedalaman air di lokasi budi daya sebaiknya berkisar antara 0,5 – 1 m dihitung pada waktu surut terendah, sedangkan pada pasang tertinggi kedalaman perairan sebaiknya tidak lebih dari 2 m. Hal ini untuk menghindarkan teripang dari kekeringan atau kenaikan suhu air yang dapat mengganggu kehidupannya.

3) Dasar perairan

Dasar perairan sebaiknya landai, terdiri dari pasir dan pecahan-pecahan karang, berlumpur, dan banyak ditumbuhi ilalang laut/lamun serta rumput laut. Karang, ilalang laut, serta rumput laut ini selain berfungsi sebagai pelindung, juga berfungsi sebagai perangkap makanan untuk teripang.

4) Perairan jernih

Perairan harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.

5) Kualitas air

Lokasi budi daya yang dipilih sebaiknya mempunyai kisaran suhu air 24 – 30°C, kadar garam 28 – 32 ppt, pH air 6,5 – 8,5, oksigen terlarut 4 – 8 ppm, dan mempunyai gerakan air cukup (kecepatan arus 0,3 – 0,5 m/detik).

6) Ketersediaan benih

Benih merupakan salah satu faktor produksi yang cukup penting. Oleh karena itu, untuk menjamin kelangsungan budi daya teripang, harus tersedia benih yang cukup baik kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Lokasi budi daya sebaiknya dekat dengan sumber benih atau lokasi itu memiliki benih alami. Terdapatnya benih alami di lokasi itu merupakan petunjuk bahwa lokasi itu cocok untuk tempat budi daya. Di samping itu, kualitas benih akan terjaga tidak mengalami stress karena penanganan dan pengangkutan dan tidak perlu lagi biaya untuk pengangkutan.

7) Kemudahan

Lokasi budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.

Lokasi yang potensial untuk pengembangan budi daya teripang di negara kita sebenamya sangat luas. Akan tetapi, baru sebagian kecil saja yang diketahui, yaitu sekitar 2.500 ha, meliputi Lampung 200 ha, Jawa Timur 200 ha, Nusa Tenggara Barat 200 ha, Sulawesi Utara 500 ha, Sulawesi Tengah 300 ha, Sulawesi Tenggara 500 ha, Maluku 500 ha, dan Irian Jaya 100 ha (lihat Tabel 3). Daerah lain yang potensial antara lain Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Timor-Timor.

1.2. Alat dan Bahan]

Wadah penampungan

Penampungan teripang yang baru ditangkap dapat dilakukan dengan menggunakan perahu atau juga tong plastik maupunwadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi sekaligus dapat langsung digunakan untuk wadah selama transportasi.

Wadah pencucian

Wadah pencucian dapat berupa drum yang terbuat dari aluminium, plastik ataupun fibreglass dan tidak dianjurkan menggunakan wadah yang terbuat dari bahan yang mudah berkarat, seperti seng.

Pisau pembelah

Pisau pembelah harus tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat (sebaiknya stainless steel), kuat dan tajam dengan bagian ujung yang runcing.

Wadah perebusan

Wadah perebusan harus terbuat dari aluminium atau stainless steel dengan ukuran yang disesuaikan kapasitas pengolahan.

Alat pengasapan

Alat pengasapan dapat berupa alat pengasap terbuka, drum pengasap, lemari pengasapan ataupun rumah pengasapan. Alat pengasapan terbuka tidak dianjurkan mengingat alat ini sulit dalam pengontrolan suhu, dapat terkontaminasi kotoran dari luar dan pemakaian asap tidak efisien (banyak terbuang).

Alat pengeringa

Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari diatas para-para dengan ketinggian=l meter, atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer)

1.3. Penyediaan Benih

    
Benih teripang dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu benih alami yang dikumpulkan dari alam dan benih hasil pembenihan buatan di hatchery (panti benih).

1. Benih alami

Benih alami biasanya banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar lumpur berpasir dan banyak ditumbuhi tumbuhan laut, seperti ilalang laut dan rumput laut. Benih alami ini mempunyai ciri sebagai berikut.

- Bentuk badan bulat panjang dengan bagian perut merata serta bersekat-sekat melintang berwarna putih.

- Di antara sekat-sekat tubuh di bagian punggung terdapat garis-garis hitam.

- Kulit tubuh tebal dan kasar. Jika diraba, terasa kasar seperti ada butiran pasir.

Benih alami. Banyak ditemukan di kawasan pasang surut yang berdasar Lumpur berpasir dan ditumbuhi tumbuhan laut. Benih dari alam ini bisa diambil langsung dengan tangan pada saat air laut surut. Pekerjaan ini biasa dilakukan oleh nelayan pada waktu malam hari dengan penerangan obor atau lampu petromaks. Pada malam hari terutama saat air surut, benih teripang cenderung berada di permukaan pasir sehingga mudah diambil. Nelayan biasanya menampung benih tersebut dalam wadah yang berisi air laut. Atau, sering kali hanya diletakkan di dalam perahu yang mereka tumpangi dan diberi air laut. Selanjutnya, benih dibawa ke tempat pembesaran. Adakalanya pengambilan benih dilakukan pada siang hari dengan cara menyelam. Pekerjaan ini relatif lebih sulit jika dibanding pada malam hari karena pada siang hari teripang lebih suka berlindung di bawah batu karang atau membenamkan diri di bawah pasir sehingga agak sulit dilihat. Di samping itu, untuk menghindari panas di siang hari, teripang cenderung memilih perairan yang lebih dalam dengan gelombang yang tidak terlalu besar dan lokasi cukup terlindung, misalnya di laguna dan teluk. Benih yang diambil dari alam berukuran sekitar 10 cm. Ukuran sebesar ini pada umumnya bisa langsung dibesarkan pada kurungan pemeliharaan

Usaha pencarian benih teripang dilakukan dengan jalan menyelam di laut pada kedalaman 2 meter sampai 5 meter. Biasanya benih teripang diperoleh bersama pada saat nelayan mencari teripang yang dewasa untuk diolah. Teripang yang masih muda dibesarkan lebih dulu dan yang telah dewasa dapat langsung diproses untuk diolah lebih lanjut. Di beberapa tempat tertentu biasa dijumpai benih teripang yang hanyut terhempas ombak di tepi pantai. Pada umumnya teripang nampaknya tidak tahan terhadap suhu yang lebih tinggi di pantai, maka pencarian benih dilakukan pada malam hari pada saat anak-anak teripang dalam tidak bergerak seperti benda mati saja. Tetapi bagi para nelayan pengumpul teripang yang telah mengetahui kebiasaan hidup teripang, pada siang hari pun dapat juga dikenali tempat-tempat dimana teripang bersembunyi. Pada umumnya mulut teripang tetap menghadap kearah permukaan dasar laut, sehingga bila diperhatikan terdapat lubang kecil yang persis dimulut teripang.

1.4. Pembesaran

    Setelah siap di lahan permbesaran, teripang siap ditebarkan di lahan pembesaran. Dalam tahap ini, terdapat beberapa faktor yang perlu dipperhatikan untuk meningkatkan produktivitas teripang, yaitu padat penebaran benih, pemberian pakan, dan pengendalian hama penyakit. Setelah melaluit tahapan di atas, teripang siap untuk dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pada saat air surut sebelum teripang membenamkan diri ke dalam pasir. Hasil panen harus segera di bawa ke tempat pengolahan karena teripang merupakan produk laut yang cepat membusuk.

 

1.5. Panen

    Lama pemeliharaan teripang tergantung pada jenis, ukuran, waktu penebaran benih, pertumbuhan, dan ukuran teripang yang dikehendaki pasar. Teripang pasir umumnya dipanen setelah mencapai berat basah 200 – 250 g atau panjang 15 – 20 cm, karena ukuran tersebut yang paling banyak diminta konsumen. Untuk mencapai ukuran itu, diperlukan waktu pemeliharaan antara 5 – 6 bulan dari benih awal dengari berat 30 – 40 g atau panjang 5 – 7 cm. Pemanenan teripang sebaiknya dilakukan pada waktu air surut, yaitu pada pagi hari sebelum teripang membenamkan diri ke pasir. Panen dapat dilakukan dengan memungut langsung teripang yang sudah berukuran besar dan memenuhi ukuran konsumsi. Hasil panen ditampung dalam wadah, seperti tong plastik atau ember. Pada waktu pemanenan diusahakan tubuh teripang jangan sampai terluka, karena akan mempengaruhi harga jualnya nanti. Hasil panen segera dibawa ke tempat pengolahan, karena teripang merupakan salah satu hasil perikanan yang cepat busuk. Dari satu unit kurungan pagar ukuran 400 m2 (20 m x 20 m) dapat dipanen antara 640 – 960 kg dengan persentase teripang hidup sekitar 80 %. Teripang ukuran panen. Berat basah antara 200 – 500 g.

Pemungutan hasil panen dapat dilakukan setelah ukuran teripang berkisar antara 4 sampai 6 ekor per kg (market size). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6 – 7 bulan, dengan survival yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara bertahap yaitu dengan memilih teripang yang berukuran besar atau juga dapat dilakukan secara total, kemudian dilakukan seleksi menurut golongan ukuran.

Diproteksi: Parameter kualitas Air Budidaya (Fisika, Kimia dan Biologi) di Danau Ngade

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 552 pengikut lainnya.